Review Kindle Paperwhite: Pengganti Buku yang Ideal?

E-reader alias perangkat untuk membaca buku sudah ada sejak akhir 90an, dengan Rocket E-Book sebagai salah satu e-reader komersil pertama. Secara umum, e-reader memiliki kekhususan dibandingkan layar LCD ataupun AMOLED masa kini, yaitu pada umumnya e-reader memiliki layar e-ink. Layar dengan e-ink mirip dengan tinta pada kertas biasa: e-ink secara alami tidak memancarkan cahaya sehingga mengurangi tingkat kelelahan pada mata saat dibaca. Namun di sisi lain, layar e-ink umumnya memiliki refresh rate yang rendah sehingga menggunakannya seringkali terasa tersendat-sendat.

Percepat ke 2019, di tengah majunya teknologi layar smartphone, e-reader ternyata masih ada dan tetap setia dengan layar e-ink. Kini terdapat beberapa produsen e-reader masih bertahan: Barnes & Noble, salah satu toko buku di Amerika Serikat, memiliki lini Nook sebagai media bagi konsumen untuk membeli e-book dari toko mereka. Prinsip yang sama juga dilakukan Kobo dengan lini Aura-nya. Namun, mungkin yang paling populer saat ini tak lain adalah Amazon dengan lini Kindle-nya.

Pada kesempatan ini, saya hendak mereview salah satu varian Kindle tahun 2019 yaitu Kindle Paperwhite. Varian yang saya review adalah varian termurah dari Paperwhite dengan penyimpanan 8 GB dan dengan dukungan ads.

Tampak depan dan samping Kindle Paperwhite

Aspek fisik

Kindle Paperwhite memiliki layar dengan panjang diagonal 6 inci dengan rasio layar 13.5:10. Memegang Paperwhite mengingatkan saya pada tablet Google Nexus 7 (2013) dari segi material dan lebar. Sisi belakang dari Paperwhite terbuat dari material soft touch yang nyaman untuk digenggam. Dengan lebar 116 mm dan berat 182 gram (sedikit lebih ringan dari iPhone 8 Plus), Paperwhite memiliki lebar yang setara dengan tablet 7 inci dimana Anda dapat memegangnya hanya dengan satu tangan saja untuk keperluan membaca.

Salah satu aspek unik pada Kindle Paperwhite ketimbang Kindle versi paling mendasar adalah adanya sertifikasi water resistant (bukan waterproof) IPX8. Saya tidak menyarankan Anda untuk membaca pada saat mandi (?), misalnya, namun saya kira adanya sertifikasi ini akan cukup lebih memberikan rasa aman saat Kindle Paperwhite Anda ketumpahan air minum.

Resolusi 300 ppi dari Kindle Paperwhite membuat teks begitu tajam dan nyaman untuk dibaca

Experience

Saat pertama kali Anda setup Paperwhite, Anda akan dihadapkan dengan pilihan bahasa serta akan diminta untuk login dengan akun Amazon. Berhati-hatilah bahwa pilihan akun Amazon Anda akan menentukan buku apa saja yang dapat Anda beli. Jika Anda login akun Amazon Japan, pilihan buku Anda hanya akan terbatas pada Kindle Store Japan. Sebaliknya, jika Anda login dengan akun Amazon USA, Anda akan memiliki pilihan buku dari Kindle Store USA. Jika Anda terlanjur login dengan akun yang tidak Anda kehendaki, jangan kuatir, Anda masih dapat merubahnya di menu Settings.

Navigasi dasar pada Paperwhite cukup sederhana. Pada halaman Home, seluruh tombol terpampang dengan jelas dengan icon dan teks di bawahnya serta terdapat pilihan e-book yang tersedia pada Library Anda. Pada halaman e-book, navigasi menjadi agak kurang jelas namun cukup mudah untuk dipahami: sentuh sisi kiri atau kanan layar (atau swipe) untuk mengganti halaman, pinch untuk zoom in dan out, swipe dari bawah untuk outline view, dan sentuh sisi atas layar untuk memunculkan taskbar. Sebagai tambahan, Anda juga bisa melakukan highlight pada teks dan bahkan mencari arti kata tersebut dengan cara long press.

Membaca buku di Kindle Paperwhite dapat saya katakan sangat nyaman. Teks terlihat sangat tajam dengan resolusi 300 ppi. Paperwhite juga dilengkapi dengan backlight sekiranya Anda hendak membaca dalam gelap. Beratnya yang ringan dan ringkas memungkinkan Anda untuk membawanya kemana-mana. Dengan kata lain, secara umum Paperwhite lebih memungkinkan untuk dibaca dalam berbagai kondisi ketimbang buku fisik.

Seperti yang telah saya sebutkan, varian yang saya beli adalah varian dengan ads. Artinya, dalam keadaan standby, Kindle akan memasang iklan buku secara acak sebagai screensaver. Anda tidak dapat mematikan hal ini kecuali dengan membayar untuk mematikan iklan (‘special offers’) melalui website Amazon. Namun, secara umum adanya iklan tidak terlalu menggangu pengalaman saya dalam menggunakan Kindle.

Sedang agak malas untuk membaca? Pada Kindle Store terdapat koleksi audiobook dari Audible yang memungkinkan Anda untuk “mendengarkan” buku yang Anda unduh di Kindle. Namun, perlu diingat bahwa Kindle tidak memiliki headphone jack sehingga Anda memerlukan headset bluetooth untuk dapat mendengarkan audiobook. Dari hasil percobaan saya melalui bluetooth headset murah (dibawah 250 ribu), kualitas audio dari Kindle dapat dikatakan cukup oke walaupun tidak juga mengesankan.

Mengunduh buku baru di Kindle juga cukup mudah: pada halaman Home, Anda cukup sentuh Search, ketik judul buku yang Anda minati, lalu klik Buy (dibayar dengan input kartu Visa dan sejenisnya). Beberapa judul dari penulis buku Indonesia muncul di Kindle Store namun dalam terjemahan bahasa Inggris, seperti misalnya buku dari Eka Kurniawan yang berjudul Beauty is a Wound (judul aslinya adalah ‘Cantik itu Luka’). Koleksi buku pada Kindle Store selengkapnya dapat Anda lihat disini.

Selain untuk membaca, Kindle Paperwhite tidak melakukan banyak hal lain: Anda tidak dapat browsing selain untuk mencari buku atau audiobook dari Amazon, memutar musik, menonton video YouTube, atau hal lainnya, namun saya kira memang sebaiknya tidak demikian. Saya kira keterbatasan merupakan hal yang baik karena akan lebih sedikit distraksi saat menggunakan Kindle. Jika Anda hendak melakukan hal-hal yang saya sebutkan barusan, tentunya sekarang sudah ada smartphone dan laptop yang lebih baik untuk hal-hal tersebut.

Salah satu kelebihan dari e-ink adalah jauh lebih hemat daya dibandingkan layar LCD ataupun AMOLED seperti pada smartphone, begitu juga dengan e-ink pada Kindle Paperwhite. E-ink hampir tidak menyedot daya saat kita tidak berinteraksi dengan Paperwhite dan dalam kondisi aktif dipakai, Kindle Paperwhite mestinya dapat tahan berminggu-minggu selama Anda tidak terus menerus mengaktifkan Wifi ataupun bluetooth.

Kindle dapat membaca file AZW dari Kindle Store, namun juga bisa membaca beberapa format populer lain

Kompatibilitas

Jika Anda hendak membaca e-book dari luar Kindle Store, Anda cukup menghubungkan Kindle Anda ke laptop Anda dengan kabel micro USB ke USB Type-A yang tersedia dalam paket penjualan. Beberapa format file populer yang disupport oleh Paperwhite atau Kindle pada umumnya adalah AZW, MOBI, PRC, TXT, dan PDF. Jika Anda menghendaki untuk membaca format e-book populer lainnya seperti EPUB, Anda perlu konversi file tersebut ke salah satu format yang disupport oleh Kindle. Hasil konversi ke format yang disupport secara native oleh Kindle ternyata sangat baik dan hampir tidak ada bedanya dengan e-book format AZW asli. Untuk format PDF, file akan tetap pada format aslinya (tidak dibuat format e-reader) sehingga file-file PDF dengan banyak teks mungkin akan terlihat terlalu kecil kecual di zoom terlebih dahulu. Secara umum, saya tidak merekomendasikan untuk membaca PDF pada Kindle, kecuali mungkin yang dibaca adalah komik yang secara native teksnya sudah besar-besar.

Untuk Siapa?

Berdasarkan pengalaman saya selama proses review, Kindle lebih diperuntukkan bagi mereka yang memang senang membaca buku namun merasa kesulitan jika harus membawa buku kemana-mana. Atau mungkin layar laptop atau smartphone kurang nyaman dalam membaca koleksi e-book mereka.

Apakah dengan adanya Kindle buku fisik akan mati? Saya rasa tidak, sebab buku fisik masih punya banyak kelebihan: mereka mudah diraih dan dibagikan tanpa harus menyalakan alat, sebagian orang suka dengan feel membawa dan membolak-balik halaman buku, serta tidak butuh baterai sama sekali.

Kindle juga kurang saya sarankan bagi mereka yang bekerja di bidang pendidikan dan berniat menggunakannya untuk membaca research paper, meskipun format PDF didukung oleh Kindle. Hal ini dikarenakan Kindle tidak secara native mengatur ukuran font pada file PDF sehingga nyaman untuk dibaca. Anda akan mentok dengan ukuran asli halaman PDF tersebut, berikut dengan fontnya, yang seringkali terlalu kecil untuk dibaca di Kindle ketimbang di (misalnya) kertas A4. Anda tentu bisa melakukan zoom pada file PDF, namun hal tersebut juga menyebabkan Anda perlu menggeser tampilan sedikit ke kanan dan ke kiri untuk membaca satu baris pada paragraf, dimana hal tersebut kurang nyaman. Ditambah lagi akan terdapat sedikit lag pada Kindle karena Kindle akan butuh waktu untuk me-refresh tampilan saat geser tampilan ke kanan.

Selain itu, sama seperti pada review Lembar Tekno soal smartwatch, jangan terlalu berharap banyak Anda akan menjadi rajin membaca buku setelah membeli Kindle jika sebelumnya Anda memang tidak gemar membaca.

Diluar hal tersebut, jika Anda memang benar-benar suka membaca yang tidak membutuhkan interaksi berupa scrolling, zoom, dan sebagainya – benar-benar membaca buku pada umumnya – saya kira Kindle Paperwhite akan sangat memuaskan Anda pada harga paling mendasar 2,2-2,5 juta-an di e-commerce Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *