Huawei Putus Kerjasama dengan Google. Konsumen Harus Bagaimana?

Saya menyukai unit Huawei Mate 20 saya. Smartphone tersebut sebenarnya agak terlalu besar untuk saya, namun baterainya yang sangat awet (bahkan bisa untuk dua hari), layarnya yang hampir ujung ke ujung, kamera yang serba bisa, serta performanya yang sangat lancar. Hal-hal tersebut sudah sangat menutupi kekurangan yang saya rasakan dari Mate 20 saya.

Kalau banyak brand smartphone Tiongkok yang bersaing di level menengah kebawah yang menawarkan spek tinggi dengan harga yang murah, Huawei selama 2-3 tahun terakhir ini mampu bersaing di level atas. Huawei Mate 20 saya, misalnya, dapat menawarkan sesuatu yang hampir sama dengan Samsung Galaxy Note 9 dengan harga sekitar 20% lebih murah dan hampir tanpa kompromi. Flagship Huawei terakhir yaitu P30 Pro bahkan memiliki kualitas kamera yang belum bisa disaingi smartphone manapun, termasuk Google Pixel 3 yang sebelumnya terkenal sebagai yang terbaik.

Huawei mungkin tidak seterkenal brand Tiongkok lain di Indonesia seperti Oppo, Vivo, dan Xiaomi, namun faktanya secara global mereka adalah produsen smartphone nomor 2 di dunia. Posisi Huawei saat ini satu peringkat diatas Apple dan dibawah Samsung.

Huawei Mate 20

Namun, kejayaan Huawei mungkin akan berubah dalam beberapa hari ke depan karena pemerintah Amerika Serikat baru saja mengeluarkan aturan terbaru dimana perusahaan Amerika Serikat dilarang untuk bekerja sama dengan Huawei, termasuk Google sebagai yang ‘meregulasi’ mayoritas Android yang kita gunakan (sebagai informasi, Android secara umum ada dua versi yaitu Android yang diregulasi oleh Google dan yang masuk ke Android Open Source Project yang bisa digunakan oleh siapa saja). Ini merupakan level baru dari perang perdagangan Amerika Serikat dengan Tiongkok dimana sebelumnya perangkat Huawei, termasuk peralatan telekomunikasi, sudah sempat dilarang untuk dijual secara resmi di Amerika Serikat.

Terkait dengan ban yang dilakukan Amerika Serikat tersebut, berikut adalah beberapa pertanyaan yang mungkin terlintas di benak kita sebagai konsumen beserta penjelasannya.

Apa yang terjadi jika Google dilarang bekerjasama dengan Huawei secara resmi?

Huawei tetap bisa menggunakan Android, namun Huawei tidak lagi bisa mendapatkan Play Store, update keamanan, serta tidak menutup kemungkinan bahwa pada akhirnya Huawei akan menggunakan sistem operasi sendiri (selain Android). Perangkat Huawei yang ada mungkin juga tidak akan atau akan sangat lambat dalam mendapatkan versi Android berikutnya (Q) karena untuk mendapatkan ‘bocoran’ versi berikutnya, para produsen smartphone perlu bekerja sama dengan Google. Huawei memang sudah mempersiapkan diri dari segi sistem operasi sekiranya harus tidak menggunakan Android, minimal untuk di pasar Tiongkok, namun dari pengalaman Windows Mobile, Blackberry 10, dsb. kita tahu bahwa sistem operasi peringkat ketiga sulit untuk bertahan. Memang betul smartphone tanpa Play Store dapat di “sideload” sehingga kita tetap bisa menggunakan app dari Play Store, namun hal ini tentu sangat tidak nyaman untuk konsumen.

Apa pengaruhnya terhadap smartphone Huawei yang sekarang masih dijual?

Pada saat tulisan ini dibuat, hal ini masih dalam tahap negosiasi. Google melalui akun Twitter dari Android secara resmi menyatakan bahwa perangkat smartphone Huawei yang sudah dijual akan tetap mendapat update software dan keamanan.  Namun, dari sisi pemerintah Amerika Serikat, Huawei hanya akan mendapatkan lisensi kerjasama dengan Google sementara selama tiga bulan.

Apa pengaruhnya terhadap brand smartphone Tiongkok lainnya?

Pelarangan kerjasama yang telah disebutkan jelas terbatas untuk Huawei, namun tentunya ini menimbulkan kekuatiran bagi brand smartphone Tiongkok lainnya. Perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok untuk saat ini baru memakan ‘korban’ perusahaan sebesar Huawei dan tidak ada yang tahu bagaimana kelanjutannya.

Bagaimana sebaiknya konsumen di Indonesia menyikapi hal ini?

Untuk saat ini, mungkin terlalu terburu-buru jika Anda segera berniat menjual smartphone Huawei milik Anda dan saya menyarankan agar Anda menunggu setidaknya sampai perundingan antara Huawei dengan Google selesai terlebih dahulu. Setelah itu, keputusan jual atau tidak ada di tangan Anda.

Namun, jika Anda saat ini sedang dalam posisi hendak membeli smartphone baru untuk jangka panjang, saya menyarankan agar Anda tidak melirik Huawei dan Honor (sebagai anak perusahaan Huawei) untuk sementara waktu. Selain di level flagship, masih sangat banyak alternatif dari Huawei yang dapat anda peroleh yang lebih baik dari segi harga maupun kualitas. Samsung mulai tahun ini mulai banting harga dengan seri M dan A nya untuk bersaing dengan brand Tiongkok. Asus (brand Taiwan yang notabene berkerabat dengan Amerika Serikat) juga mulai agresif lagi dalam berinovasi dengan Zenfone 6 nya yang unik namun tidak kelewat mahal. Brand Tiongkok lainnya seperti Oppo, Vivo, dan Xiaomi juga dapat dibilang masih aman untuk dibeli saat ini karena ketiga brand tersebut tidak ‘aneh-aneh’ dengan pemerintah Amerika Serikat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *