Smartphone LG Hengkang dari Indonesia? Mengapa?

Pada hari Kamis 15 November lalu, beredar kabar (kalau saya dapat dari instastory akun instagram Droidlime) bahwa smartphone LG sedang didiskon besar-besaran di toko-toko Erafone sebagaimana ditunjukkan pada foto dibawah ini. Diskon tersebut nampak tak wajar, karena bahkan salah satu smartphone kelas flagship LG yang terbaru, LG G7 Plus, juga ikut didiskon bahkan hingga 30%. Smartphone yang lebih lama lagi seperti V20 dan G5 SE bahkan dipotong harganya lebih dari 50%.

Adapun pemotongan harga tersebut kabarnya disebabkan karena LG hendak menarik bisnis smartphone mereka di Indonesia. Langkah ini tentunya cukup mengejutkan, namun sebenarnya tidak juga mengherankan. Kira-kira apa saja alasan LG hengkang dari Indonesia? Walaupun penyebab pastinya belum diketahui, berikut beberapa hal yang bisa jadi membuat LG mundur dari pasar smartphone di Indonesia.

Kalah Bersaing

Pasar smartphone secara umum cenderung menurun, sementara kompetitor di pasar ini terus menerus bertambah. Perusahaan seperti LG merupakan perusahaan yang bisa dibilang cenderung “sudah mapan”, sehingga walaupun mereka punya semua teknologi yang dibutuhkan untuk membuat salah satu smartphone terbaik di dunia, LG kalah agresif dengan kompetitor lainnya dalam hal marketing, khususnya para pendatang baru. Kombinasi kedua hal tersebut nampak membuat LG menjadi semakin sulit bersaing dengan merk lain.

Terbukti bahwa pada umumnya sejak tahun 2014-an, smartphone LG didiskon hingga 20-30% sekitar 6 bulan setelah rilis, sementara flagship Samsung hanya mengalami penurunan harga antara 10-20% dari harga saat rilis bahkan setelah lewat satu tahun. Secara tidak langsung, LG nampak ingin segera cuci gudang setelah merilis flagship terbarunya, dan hal ini nampaknya benar tercermin dari grafik dibawah ini.

(Sumber: techcrunch)

Jika di level flagship kondisinya adalah demikian, di level midrange pun tidak lebih baik dimana sektor midrange umumnya merupakan penyumbang profit terbesar manufacturer pada pasar selain Amerika Serikat. Sebagai contoh sederhana, akan sulit menjual LG Q6 dengan spesifikasi yang begitu rendah jika di tahun yang sama ada Galaxy A5 2017, Motorola G5S Plus, dan sederet smartphone dari Xiaomi, walaupun LG punya satu keunikan yang tidak dimiliki para kompetitornya yaitu layar dengan rasio 18:9 (sekali lagi, berkat keunggulan komponen LG).

Unit Bisnis Lain yang Lebih Menguntungkan

LG merupakan salah satu perusahaan selain Samsung dan Sony yang mampu memproduksi komponennya sendiri. Untuk Apple, misalnya, LG menyuplai layar untuk Macbook, iPhone (bergantian dengan Samsung), iPad, dan iPod, serta punya monitor 5K yang resmi dijual oleh Apple sebagai pasangan Macbook/Macbook Pro. Kalau bisnis komponen LG selancar seperti Samsung, bukan hal yang mustahil bahwa LG memilih lebih fokus untuk mengedepankan bisnis ini ketimbang smartphone.

Saya tidak memiliki breakdown lengkap data keuntungan LG, namun jika dilihat dari grafik Samsung dibawah ini, terlihat jelas bahwa bahkan produsen smartphone sesukses Samsung pun tidak mendapatkan keuntungan terbesar dari penjualan smartphone. Bahkan Samsung cenderung mendapatkan keuntungan dengan menjual semiconductor (misal: prosesor) ke Apple.

(Sumber: Youtube TechAltar)

Diluar itu, jauh sebelum terkenal sebagai produsen smartphone, LG masih memiliki segudang unit bisnis lainnya seperti TV, Kulkas, Air Conditioner, dan sebagainya yang jelas lebih menguntungkan.  Pada grafik dibawah ini, saya belum bisa memastikan kepanjangan hal-hal lain diluar MC (mobile communications), namun dapat terlihat jelas bahwa bisnis-bisnis LG lainnya cenderung “menambal” bisnis smartphone LG.

(Sumber: Barrons)

Masalah Smartphone LG Sendiri

LG cenderung memiliki kesan sebagai “produsen smartphone dari Korea Selatan lainnya selain Samsung“. Empat tahun terakhir, tanggal rilis flagship dari Samsung cenderung mendekat dengan Samsung: LG G3 (Juni 2014) dengan Galaxy S5 (April 2014), G4 (April 2015) dan S6 (April 2015), G5 (April 2016) dan S7 (Maret 2016), serta G6 (Maret 2017) dan S8 (April 2017) (Sumber: GSM Arena). Baru pada rilis G7, LG merasa perlu ada perubahan strategi rilis dan tidak lagi “mengekor” Samsung dan launching 2 bulan setelah Galaxy S9. Namun, strategi tersebut juga nampak belum membuahkan hasil meskipun LG G7 ThinQ merupakan smartphone komplit: desain oke, audio luar biasa, kamera oke (meskipun hanya bisa setara dengan Samsung).

Segala invoasi yang dilakukan LG ternyata tidak membuat LG lebih unggul dari Samsung, terutama dari segi marketing. Jika dibandingkan dengan spek saja, misalnya, LG terkadang lebih unggul dari Samsung, namun kesan premium ternyata tidak dapat ditunjukkan oleh LG dimana Samsung dapat menghadirkannya semenjak seri S6 dan seterusnya.

Beberapa smartphone LG, termasuk kelas flagship, juga dihantui oleh masalah bootloop dimana smartphone terus menerus booting berulang tanpa dapat masuk ke layar utama. Saya sendiri mengalami masalah ini pada unit G4 saya tahun 2015 lalu, dan begitu saya mencari tahu penyebab masalah ini, ternyata saya tidak sendirian.

Saya sendiri sebenarnya sangat menyukai LG. Brand tersebut begitu inovatif bahkan jika dibandingkan dengan Samsung, Sony, dan Apple. LG barangkali merupakan produsen smartphone pertama yang menghadirkan konsep “layar besar dengan  bezel kecil” tanpa mempersulit navigasi pada smartphone dengan LG G2, layar super tajam 1440p dan sistem autofokus laser dengan G3, layar melengkung dan sisi belakang terbuat dari kulit dengan G4, konsep modular smartphone dengan G5, dan layar dengan rasio 18:9 dengan G6 (Samsung mungkin mengembangkan teknologi ini berbarengan dengan LG, hanya saja LG merilis G6 duluan ketimbang Samsung merilis Galaxy S8). Sayangnya, seluruh inovasi tersebut tidaklah cukup untuk membuat smartphone LG laris di pasaran karena sedikit permasalahan sistem namun terkadang fatal serta marketing yang tidak maksimal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *