Review Cepat Adobe Premiere Rush

Pada tanggal 15 Oktober 2018 kemarin, Adobe tiba-tiba mengejutkan saya dengan merilis banyak update pada software-sofware andalan mereka pada Creative Cloud seperti Photoshop, Premiere, dan Reader (lol, yang ini saya yakin belum update dari beberapa pekan lalu). Namun tidak hanya itu: Adobe juga mengeluarkan beberapa software baru dan diantaranya adalah Adobe Premiere Rush.

Setelah browsing singkat mengenaik sofware ini, rupanya Premiere Rush dirancang untuk orang-orang yang butuh mengedit video secara cepat seperti para Youtuber. Para penggunanya pun dapat menggunakan Adobe Premiere Pro untuk mengedit file hasil editan Premiere Rush sekiranya membutuhkan editing yang lebih detil, karena Premiere Rush dirancang sangat sederhana untuk keperluan editing cepat.

Pertanyaannya: seberapa sederhana? Setelah mencoba secara cepat hari ini, berikut sedikit review dari saya untuk Premiere Rush.

Pada saat masuk ke software, saya dihadapkan dengan pemilihan media (video, audio, gambar) dimana saya diminta untuk memasukkan file media secara berurutan agar software dapat mengurutkan media yang Anda pilih ke dalam timeline. Setelah itu, software akan melakukan “optimasi” pada file-file yang ada sehingga mudah diedit dan juga akan menganalisis audio dari setiap video yang Anda masukkan, sehingga dapat diketahui apakah audio Anda termasuk musik atau seorang yang berbicara, misalnya. Saya juga tidak merasakan stuttering saat mengedit video, dimana hal tersebut biasanya saya temui pada saat mengedit dengan Premiere Pro.

Media files di sebelah kiri, termasuk stock music

Lalu saya pun dihadapkan ke tampilan yang sangat sederhana: di sebelah kiri ada pemilihan media, trim/copy/delete, dan toggle waveform audio, sementara di sebelah kanan ada pilihan untuk memasukkan motion graphics (yes!), transition (pilihannya terbatas, tapi okelah), color (nampaknya oke untuk video-video dengan dynamic range tinggi), audio, dan transform (oke, dengan sedikit kekurangan yang akan saya jelaskan).

Preset transition

Saya pun berhasil mengedit video acara di kampus saya hari Minggu 14 Oktober kemarin dalam waktu kurang dari satu jam. Dalam proses editing, saya merasa software ikut “memudahkan” saya berkat machine learning-nya Adobe: audio saya tidak bentrok, namun juga tidak terlalu kencang/kecil (tentunya Anda bisa edit sendiri sesuai selera jika mau).

Setelah beres, Anda bisa masuk ke menu Share untuk mengekspor video dengan resolusi, framerate, audio, dan quality yang Anda sukai dan sudah dibuat sangat sederhana. Salah satu aspek terpenting dalam mengekspor yaitu Estimated File Size juga sudah ditunjukkan langsung di halaman. Anda pun juga bisa langsung mengupload video Anda ke YouTube, Facebook, Instagram, dan Behance (? berhubung saya bukan editor video profesional, saya belum pernah dengan Behance).

Tampilan export

Satu fitur yang menurut saya sangat disayangkan adalah absennya fitur zoom gambar statis ala slideshow. Berhubung Premiere Rush dibuat untuk kebutuhan editing secara ekspres, saya kira fitur ini semestinya ada pada Premiere Rush (sekiranya saya salah, mohon diperbaiki).

(Edit: saya juga menyayangkan mengapa tidak ada pengaturan playback speed per klip video, karena saya butuh itu untuk membuat efek video cinematic dari video 60 fps)

Secara keseluruhan, saya kira Premiere Rush merupakan software yang cukup mumpuni untuk keperluan editing cepat. Fitur-fitur memang dipangkas sedemikian rupa sehingga Anda dapat fokus untuk mengerjakan salah satu hal terberat saat editing video yaitu mengatur Timeline. Sekiranya Anda membutuhkan fitur, Anda tentu dapat meneruskan edit pada Premiere Pro. Berikut hasil akhir edit video dengan Premiere Rush.

Software ini bukanlah software gratisan: Premiere Rush dapat dibeli dengan harga $9.99 atau jika Anda sudah berlangganan Adobe Creative Cloud seperti saya, Premiere Rush akan termasuk dalam paket Creative Cloud sehingga Anda tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *