Review Google Pixel 2: Terbaik!

Saya bukanlah fans Google garis keras, namun secara umum saya sangat menyukai semua upaya dari Google untuk menyaingi Apple dalam integrasi hardware dan software demi kesempurnaan user experience. Di masa lampau, saya sempat memiliki tablet Nexus 7, Nexus 7 2013, dan Moto X (seri pertama) dimana seluruhnya didesain oleh Google (walaupun produksi hardware Nexus 7 / 7 2013 dilaksanakan  oleh Asus dan Moto X oleh Motorola).

Saya sangat puas memakai perangkat-perangkat tersebut, namun sayangnya saya juga merasa Google kurang all out dalam memasarkan smartphone mereka. Terbukti dengan tingkat penjualan yang, walaupun tidak buruk, tetap masih terlalu jauh dibandingkan iPhone.

Maju ke 2016, Google merilis lini premium dari smartphone mereka sendiri yang diberi nama Pixel dan Pixel XL. Keduanya dapat dibilang memiliki desain yang ‘sangat iPhone’ dengan HTC yang bertugas untuk memproduksi Pixel dan Pixel XL. Google pun tidak tanggung-tanggung terkait promosi dari seri Pixel dengan memasarkan Pixel dimana-mana (tentunya terbatas pada negara pasar Pixel) dan menyematkan ‘Made by Google’ pada iklan-iklan mereka. Alhasil, Pixel pun cukup laris meskipun tetap masih jauh dari Apple.

Pixel 2 dan Pixel 2 XL rilis setahun berikutnya dengan banyak tambahan fitur. Sayangnya, Pixel 2 XL banyak dihantui permasalahan pada layar AMOLEDnya dan penjualan seri Pixel pada tahun 2017 tidaklah terlalu baik.

Terlepas dari penjulannya, apakah Pixel 2 dan 2 XL termasuk smartphone yang oke? Saat ini, usia layan Google Pixel 2 dan 2 XL sudah hampir 1 tahun dan sudah memiliki update ke Android Pie dan saya pun tertarik untuk mencoba Pixel 2 mulai pertengahan Juni 2018 lalu karena harganya sudah turun dan tidak mampu beli 2 XL.

Berikut adalah review dari saya setelah pemakaian 3 bulan.

00b

Desain

Kalau dilihat dari depan, Pixel 2 nampak seperti smartphone murah. Bentuknya persegi panjang dengan lengkungan di pinggir serta memiliki bingkai sisi atas dan bawah yang tebal, mirip seperti smartphone dari Evercoss. Kalau Anda hendak membeli Pixel 2 untuk desainnya, saya kira hal tersebut bukanlah langkah yang tepat sama sekali.

Untungnya sisi belakang dari Pixel 2 punya penampilan yang cukup menarik. Unit yang saya miliki memiliki warna putih dengan sisi atas abu-abu, sedangkan varian lainnya dapat dilihat pada Gambar dibawah. Nampaknya Google memang tidak mau ambil pusing soal desain Pixel 2, karena kalau memang mau Pixel 2 yang memiliki desian lebih oke, Anda bisa membeli Pixel 2 XL yang tentunya lebih mahal lagi.

Terlepas dari desainnya yang so-so, setidaknya keputusan desain tersebut punya maksud yang baik yang akan saya jelaskan pada menyusul.

00c

Layar

Pixel 2 punya layar dengna diameter 5.0 inci bertipe AMOLED sebagaimana Samsung, namun bisa dibilang tampilannya tidak se-ngejreng Samsung. Terdapat tiga jenis pengaturan warna pada Pixel 2 yaitu Normal, Boosted, dan Saturated. Sebelum update Android Pie, warna yang dihasilkan pada pengaturan Normal menurut saya sangat ‘mati’, sementara mode Boosted masih kurang kontras dan Saturated menjadi kelewat kontras. Untungnya, setelah update Android Pie, kontras warna yang dihasilkan sudah cukup bahkan pada mode Normal dengan saya lebih memilih mode Boosted untuk memberikan sedikit tambahan kontras.

Layar AMOLED ini juga memungkinkan Pixel 2 memiliki always on display yang menunjukkan jam, tanggal, dan icon notifikasi. Sentuhan kecil ini sudah sering muncul di smartphone Samsung karena rata-rata smartphone Samsung memiliki layer AMOLED dan saya senang Pixel 2 juga memilikinya.

Rasio layar pada Pixel 2 juga sayangnya masih 16:9 plus terdapat sedikit potongan pada sisi bawah untuk tombol navigasi. Bagi Anda yang menyukai layar dengan rasio kekinian (18:9 atau lebih besar lagi), untungnya Anda masih memiliki pilihan yaitu dengan membeli Pixel 2 XL (kembali, dengan tambahan biaya).

Secara umum, layar Pixel 2 bukanlah yang terbaik untuk kelas flagship, namun setidaknya hadirnya AMOLED pada Pixel 2 sudah menunjukkan keseriusan Google untuk membuat hardware kelas flagship (biasanya AMOLED hanya ditemukan pada smartphone Samsung menengah keatas, walaupun LCD tidak selalu lebih buruk).

Antarmuka Pengguna

Tampilan antarmuka pengguna alias user interface dari Pixel 2 bukanlah stock Android, namun tampilan khusus untuk seri Pixel yang saya kira sama ringannya dengan stock Android. Secara umum saya sangat menyukai antarmuka yang diberikan pada Pixel 2: gestur navigasinya memudahkan, teksnya enak dipandang mata, handling notifikasi sangat baik, serta secara keseluruhan relatif simpel.

Screenshot_20180929-161323

Home screen pada Pixel 2 dengan live wallpaper

Screenshot_20180929-161344

App drawer pada Pixel 2

Antarmuka pada Pixel 2 memang tidak memiliki banyak fitur ‘ekstra’ seperti yang diberikan hampir semua OEM Android seperti personal assistant bawaan OEM (missal: Bixby pada Samsung), knock-knock seperti pada LG, putar lengan untuk menyalakan kamera seperti pada Moto, RAM cleaning, dan lainnya. Namun, untungnya saya sama sekali tidak merindukan fitur-fitur tersebut, terlebih lagi untuk aplikasi RAM cleaning yang menurut saya semestinya smartphone sudah harus cukup pintar untuk melakukan manajemen RAM di balik layar. Kehilangan fitur-fitur ‘ekstra’ tersebut bagi saya oke selama ditukar oleh performa smartphone yang lebih mulus.

Pada versi Android Pie, Pixel 2 memberikan navigasi gesture-based mirip dengan iPhone X. Anda perlu swipe dari bawah layar untuk masuk tampilan recent apps, swipe kanan dan kiri pada tombol home untuk mengganti app, lalu tetap ada tombol back untuk ke halaman berikutnya. Secara pribadi saya kurang menyukai navigasi mode ini karena bagi saya masih agak sulit dihafal dan saya sudah nyaman dengan navigasi mode tiga tombol seperti Android pada umumnya.

Screenshot_20180929-151006b

Pixel 2 dalam mode navigasi gesture-based

Hal minor lain yang kurang saya sukai adalah setelah update ke Android Pie, membagi halaman (split view) tidak semudah menahan (long press) tombol switch app pada bar navigasi sebagaimana Android versi sebelumnya. Pada Pixel 2 versi Android Pie, Anda perlu menekan tombol switch app, menahan tombol icon aplikasi yang akan di-split view, lalu klik split screen. Mode split view yang awalnya hanya butuh dua langkah saja kini menjadi tiga langkah.

Screenshot_20180929-142712

Repot

Performa

Barangkali smartphone ini merupakan smartphone paling lancar yang pernah saya pakai. Aplikasi-aplikasi terbuka dengan sangat cepat dan sangat minim lag berkat kombinasi chipset kelas flagship (tahun lalu) serta skin Android pada Pixel 2 yang terasa begitu ringan. Terkadang kamera saya agak lambat dalam menangkap foto dalam mode HDR enhanced (bukan mode default), namun biasanya hanya terjadi pada penangkapan pertama dan kecepatan penangkapan menjadi normal pada foto-foto berikutnya.

RAM sebesar 4GB pada Pixel 2 diatur dengan baik oleh sistem sehingga saya jarang sekali harus me-restart suatu aplikasi saat berpindah dari satu aplikasi ke lainnya, sesuatu yang tidak saya temui pada MiA1 saya yang memiliki kapasitas RAM yang sama.

Untuk optimasi performa, saya kira Google sudah memberikan yang terbaik dan secara umum performa smartphone ini sangat memuaskan.

Gaming

Saya bukanlah seorang gamer berat, terlebih lagi di smartphone. Namun belakangan saya sesekali memainkan PlayerUnknown’s Battlegrounds versi Mobile berhubung cukup banyak teman-teman saya yang memainkan game tersebut. Secara umum, saya tidak menemukan masalah performa yang berarti dalam memainkan game tersebut.

Game akan secara default memasang mode grafis HD dan framerate high, namun dari pengalaman saya game juga tetap berjalan dengan lancar jika performa saya setel ke HDR dan framerate ultra high. Saya sendiri lebih memilih untuk menyetel pada mode default saja berhubung pada mode tersebut saja umumnya saya sudah akan kehilangan 20% dalam satu game yang cukup ‘sukses’ (kira-kira 25 menit).

Audio

Barangkali inilah alasan terbesar mengapa bagian bingkai atas dan bawah Google Pixel 2 masih tebal: terdapat satu fitur yang sudah saya rindukan sejak HTC One M8 saya 2014 silam: front facing stereo speaker!

Speaker yang menghadap ke depan ini membuat saya menjadi enggan menggunakan smartphone lain untuk menonton video YouTube. Kualitas speaker pada Xiaomi MiA1 saya sebenarnya tidak kalah (bahkan secara kejelasan/clarity saya kira MiA1 sedikit berada diaatas Pixel 2) dan speaker Pixel 2 juga tidak se-powerful HTC One M8, namun secara umum kualitas yang dihasilkan sudah cukup oke dan tidak pecah ketika dimaksimalkan (pada HTC One M8, smartphone akan mulai bergetar-getar ketika volume dimaksimalkan). Good job, Google (dan HTC selaku yang membuat Pixel 2).

Untuk kualitas audio dengan earphone, sayangnya pada Pixel 2 tidak ditemukan headphone jack walaupun terdapat dongle untuk menghubungkan 3.5 mm jack ke USB Type-C. Saya sendiri belum pernah menguji kualitas suara yang dihasilkan melalui dongle tersebut (karena saya membeli second dan ternyata tidak ada dongle-nya, hiks), namun untuk kualitas suara melalui bluetooth saya kira oke saja walaupun jujur pengalaman saya mendengarkan suara earphone lewat bluetooth cukup terbatas.

Daya Tahan Baterai

Pixel 2 memiliki kapasitas baterai 2700 mAH. Di atas kertas, angka ini nampak kecil, namun sebenarnya ini sudah cukup oke mengingat layar Pixel 2 hanya berukuran 5 inci. Untuk penggunaan sehari-hari, umumnya Pixel 2 dalam kondisi pengisian 100% dapat bertahan dari pagi (kira-kira jam 7 pagi) dan pada sore hari sekitar jam 16 baterai menunjukkan sisa 20%.

Dengan penggunaan tipikal saya yang terdiri dari penggunaan aplikasi Whatsapp, Instagram, Facebook, Gmail, dan online shop seperti Bukalapak dan Tokopedia, dan tethering yang cukup intens, biasanya Pixel 2 dapat bertahan kurang lebih 10 jam. Tentu dengan pemakaian yang lebih ringan Anda dapat lebih banyak baterai.

Secara umum, saya nilai daya tahan Pixel 2 sebagai “oke untuk ukuran flagship”. Xiaomi MiA1 saya biasanya dapat bertahan kira-kira 14 jam dengan pemakaian yang sama, namun perlu diingat juga bahwa chipset pada smartphone tersebut hanyalah Snapdragon 625 plus baterainya lebih besar yaitu 3000 mAH.

Fitur fast-charging juga hadir pada Pixel 2, walaupun agar dapat melakukan hal tersebut Anda memerlukan charger 18W dari Google dan beberapa charger lainnya yang kompatibel. Untungnya, charger 18W tersebut sudah termasuk dalam boks pembelian. Google ternyata tidak sepelit Apple.

Kamera

Hal inilah yang menjadi aspek paling juara di Pixel 2, setidaknya untuk bagian still photography. Bahkan iPhone Xs pun belum dapat menandingi Pixel 2 (Sumber 1, Sumber 2). Terkadang saya sendiri kesal mengapa kamera dari Pixel 2 – kecuali untuk urusan zoom ekstrem – kadang lebih dapat diandalkan dibandingkan dengan Fujifilm X-T10 saya.

Kehebatan utama dari kamera Pixel 2 adalah fitur auto HDR+ nya dimana secara default mode HDR (high dynamic range) akan menyala dan tidak ada jeda antara satu tangkapan dengan tangkapan berikutnya yang biasanya ditemukan saat mode HDR aktif pada smartphone-smartphone lainnya. Komposisi HDR pada Pixel 2 juga dapat saya bilang sangat oke, walaupun kadang agak gelap pada beberapa bagian.

(Catatan: foto-foto yang ditampilkan pada post ini sudah dikompresi agar halaman dapat cepat di-load)

11

17

10

07

02

01

Kemampuan penangkapan foto dalam kondisi cahaya redup seperti malam hari atau dalam restoran tertutup dari Pixel 2 juga dapat saya bilang spektakuler. Noise yang dihasilkan sangat minim dan blur sangat bisa dihindari, kecuali mungkin dalam kondisi ekstrem dimana objek bergerak sangat cepat.

19

12

 

18

Portrait mode mungkin merupakan hal paling ajaib pada sektor kamera Pixel 2. Pada tahun 2017, memiliki kamera kedua merupakan suatu kewajiban agar dapat menghasilkan efek bokeh, namun Pixel 2 dapat melakukannya hanya dengan satu kamera dan melakukannya dengan sangat rapi. Portrait mode tersebut juga bahkan berfungsi dengna baik pada kamera depan untuk selfie.

Ngomong-ngomong soal selfie, kualitas gambar tangkapan kamera Pixel 2 terhitung…sangat baik. Kualitasnya jujur diluar ekspektasi saya walaupun secara default exposure nya tidak terlalu tinggi walaupun tidak bisa dibilang gelap juga. HDR+ juga bekerja pada kamera selfie dan menjadikannya kamera depan yang hampir paripurna.

Pada kamera depan juga terdapat mode beautify meskipun efeknya sangat minor. Namun, setidaknya kita tidak dipaksa memakai ‘beautify’ seperti kasus yang terjadi pada seri iPhone Xs belakangan ini, atau beautify yang warbyasa ala Oppo dan Vivo. Fitur seperti beautify memang laku untuk pasar Asia sehingga Oppo dan Vivo pun seperti kejar-kejaran soal ini, sementara Apple belakangan mulai serius dengan pasar Tiongkok.

 

20

Selfie tanpa efek apapun. Hasilnya cukup menjanjikan.

03

Kondisi low light, portrait mode tetap oke.

Google juga memberikan sedikit bonus di sektor kamera Pixel 2:  juga mendukung Google Visual Core yang membuat foto dan video hasil tangkapan dari aplikasi 3rd party seperti Whatsapp, Instagram (termasuk stories) hanya terkena kompresi yang minim. Jika Anda menggunakan smartphone milik Samsung, misalnya, Anda akan terkena kompresi foto dan video yang menyebabkan hasil yang diupload menjadi kurang bagus.

Untuk keperluan video, saya kira Pixel 2 bukanlah juaranya. Kualitas video yang ditangkap tidaklah buruk dan bahkan bisa mencapai resolusi 4K, hanya saja saya kira dynamic range dan warna yang dihasilkan masih kalah dengan hasil tangkapan smartphone kelas flagship lainnya seperti Samsung Galaxy S9 atau Note9 dan tentunya iPhone secara umum. Saya juga terkadang mengalami bug dimana terkadang gambar video hasil tangkapan sesekali freeze walaupun suaranya masih lanjut terekam. Walaupun demikian, electronic image stabilization yang bekerja pada Pixel 2 saya harus akui sangat baik sehingga video yang Anda tangkap pun menjadi sangat minim getaran.

Berikut merupakan contoh-contoh hasil tangkapan video Pixel 2 dengan kamera belakang. Kualitas yang dihasilkan kamera depan kurang lebih mirip, hanya saja electronic image stabilization tidak bekerja untuk kamera depan.

Kapasitas Penyimpanan

Untuk urusan kapasitas penyimpanan, varian termurah Pixel 2 memiliki kapasitas 64 GB dan tidak dilengkapi dengan slot microSD. Namun, Google berbaik hati kepada para pengguna Pixel 2 dimana pengguna dapat mengunggah seluruh foto yang telah ditangkap oleh kamera dengan resolusi penuh hingga awal tahun 2021 (pada unit saya, tertera hingga tanggal 16 Januari 2021).

Fitur Lainnya

Salah satu fitur unik pada Pixel 2 adalah adanya fitur active edge yang sebelumnya pernah ada pada HTC U11. Fitur ini memungkinkan Anda untuk memanggil Google Assistant dengan cara “meremas” Pixel 2. Sensitivitas active edge serta pengaturan lainnya dapat Anda atur sedemikian rupa, walaupun sayangnya tidak dapat dipakai untuk hal lain selain memanggil Google Assistant.

Screenshot_20180929-134004

Pengaturan active edge

Pixel 2 dilengkapi dengan NFC yang dapat digunakan untuk berbagai hal, namun di Indonesia saya kira penggunaan NFC yang paling penting saat ini adalah untuk memeriksa saldo e-money.

Kesimpulan

Pixel 2 mungkin merupakan smartphone terbaik yang pernah saya pakai sejauh ini. Ukurannya mudah di-handle, performanya sangat lancar, antarmukanya intuitif dan ringan, kameranya luar biasa, baterai dapat diterima untuk flagship, serta adanya front-facing speakers yang melengkapi user experience yang sangat baik. Salah satu kelemahan dari Pixel 2 yang sangat terasa mungkin adalah desain dimana iPhone atau flagship dari Samsung pada umumnya memiliki desain dan nilai brand yang lebih baik. Pixel 3 rencananya akan dirilis pada awal Oktober dan saya menantikan kejutan apa yang akan diberikan Google (terlepas dari desain Pixel 3 XL yang, hmm, tidak keren sama sekali)

Apakah saya merekomendasikan Pixel 2 untuk semua orang? Sayangnya, saya hanya bisa merekomendasikan Pixel 2 bagi orang-orang yang benar-benar mengerti apa konsekuensi dari membeli smartphone impor dengan brand yang tidak umum: tidak ada service center untuk Pixel 2 di Indonesia maupun negara sekitarnya. Jika Anda tidak keberatan dengan hal tersebut, maka saya yakin Anda akan sangat puas dengan Pixel 2.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *