Pindah dari Android ke iOS, Worth It? (+ Review iPhone 6s)

Rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri, begitu kata pepatah.

Di dunia smartphone, barangkali inilah yang terjadi pada para pengguna Android ketika melihat pengguna iPhone.

Saya sendiri sebenarnya adalah seorang pengguna iPhone dari tahun 2010 hingga tahun 2013 awal, hingga akhirnya beralih ke An…ehm, Windows Phone terlebih dahulu hingga 2014 pertengahan sebelum akhirnya berpindah ke Android. Alasan utama saya meninggalkan iPhone adalah upgrade path yang terlalu mahal plus saya tidak memiliki produk Apple lainnya yang dapat menambah nilai iPhone saya. Satu fitur kecil, misalnya, semenjak tahun 2015, pengguna Macbook dapat menerima dan membalas pesan teks dari iPhone yang dimilikinya langsung lewat Macbook).

Namun, setelah lewat 4 tahun, berbagai faktor seperti pekerjaan yang (agak) lebih mapan, Samsung A5 2017 yang sudah mendekati masa drop harga, harga unit smartphone turun, plus beli bekas, memungkinkan saya untuk membeli iPhone 6s dengan sebagian dana hasil penjualan A5 2017.

Apakah worth it? Setelah dua bulan kembali memakai iPhone, berikut tanggapan dari saya.

DSCF5889

Hardware

Desain dari iPhone memang sudah banyak mempengaruhi desain smartphone lainnya. Xiaomi Mi A1 saya, misalnya, dapat dibilang sangat mengambil inspirasi dari desain iPhone 7 Plus. Namun, terdapat hal yang berbeda saat saya menggenggam iPhone 6s dibandingkan Xiaomi seri manapun: body dari iPhone 6s terasa kokoh dan berisi, tidak seperti Xiaomi saya. Hal ini mungkin karena komponen pada iPhone 6s yang begitu dipadatkan ke dalam body yang terbilang ramping serta material aluminium seri 7000 yang mulai dipasang pada iPhone sejak iPhone 6s (beberapa pemilik iPhone 6 memiliki masalah bendgate yang menyebabkan smartphone dapat tertekuk saat dikantongi, walaupun ini hanya terjadi pada minoritas iPhone 6 yang beredar).

Bagi yang belum terlalu mengenal iPhone, iPhone 6s memiliki tombol power dan dua tombol volume sebagaimana biasanya namun juga dilengkapi dengan mute switch di sisi sebelah kiri – hal yang sangat jarang ditemui pada Android (kecuali untuk para pengguna OnePlus) – serta tombol home yang juga berfungsi untuk kembali ke halaman utama dan memindai sidik jari sebagai pengganti password.

Software

Tentu perbedaan terbesar antara iPhone dan smartphone Android lainnya terletak pada software yang dibawanya. Impresi pertama saya menggunakan iOS kembali setelah 4 tahun lalu masih sama: semua terasa begitu smooth, cepat, serta terpoles dengan sangat baik. Hampir seluruh app, terutama app bawaan dari iOS sendiri, sangat cepat dibuka dan saya relatif jarang menemui bug.

Menggunakan iPhone artinya sama saja dengan masuk ke dunia Apple yang cenderung sensi dengan Google (akan dibahas kemudian). Dari beberapa app yang saya pakai, Apple cenderung “memaksakan” servicenya diatas service dari Google. Untuk WhatsApp dan Line, misalnya, saya jadi harus memakai iCloud untuk backup chat, sementara saya sudah terlanjur berlangganan Google Drive. App dari Apple juga menjadi didahulukan diatas Google Maps untuk kebutuhan navigas beberapa aplikasi, dimana kualitas Google Maps bagi saya masih jauh diatas Maps dari Apple.

Mungkin sebagian dari Anda akan bilang, “Google juga memaksakan untuk memakan Google Drive pada Android.” Barangkali hal itu benar, namun dari hasil penelusuran saya, tidak semudah itu untuk sinkronisasi iCloud ke Android – bahkan hanya untuk sekedar download file dari iCloud – sementara Anda akan dengan begitu mudahnya download aplikasi Google Drive untuk iPhone.

Salah satu fitur terkuat dari iOS mungkin adalah jaminan update dari Apple yang dapat bertahan hingga bertahun-tahun lamanya. iPhone 6s merupakan smartphone dari tahun 2015, namun hingga kini masih mendapatkan software update tahunan dengan prediksi mendapat dukungan hingga tahun 2020. Hal ini sangat terjadi pada Android dimana smartphone kelas flagship sekalipun pada umumnya hanya mendapatkan software update hingga 2 tahun setelah rilis. Walaupun pasti ada pro-kontra, saya yakin iOS masih merupakan pilihan terbaik jika Anda sangat peduli dengan software update berkala, terutama di sisi keamanan.

Experience

App pada umumnya lebih lancar pada iOS, karena para app developer pada umumnya juga menggunakan iOS sebagai platform pertama dalam merilis app sebelum merilis ke Android. Beberapa aplikasi saya akui lebih lancar digunakan di Android, seperti YouTube dimana versi Android dari aplikasi tersebut cenderung lebih responsif ketimbang versi iPhone, terutama saat Anda akan mengubah orientasi pandangan dari portrait ke landscape atau sebaliknya.

Navigasi di iPhone cukup berbeda dengan Android, dimana Android pada umumnya memiliki tiga tombol navigasi (back, home, switch window) sedangkan iPhone hanya memiliki satu tombol yaitu home. Awalnya, saya kira ini merupakan hal yang menyulitkan, namun rupanya iOS cukup cerdas dalam mengakali hilangnya tombol back dan multitask:  sebagian besar aplikasi (tidak semuanya) dapat “back” ke halaman sebelumnya dengan gestur swipe dari sisi kiri layar ke kanan, sedangkan switch window dapat dilakukan dengan menekan dua kali tombol home.

Namun, navigasi dengan model seperti ini memiliki kelemahan. Saya terkadang tidak sengaja melakukan swipe disaat saya hendak hanya menggeser satu item saja pada halaman tersebut (misal: reply teks Whatsapp), sementara berulang kali menekan tombol home untuk switch window membuat saya agak kuatir memikirkan ketahanan tombol home tersebut. Saya awalnya selalu bingung dengan perilaku para pengguna iPhone yang seringkali menggunakan floating navigation button untuk navigasi pada iPhone, namun kini saya dapat melihat mengapa terdapat kekuatiran seperti itu – walaupun sebenarnya bagi saya pribadi tombol home memang ada untuk ditekan, bukan dipelihara.

Layar

iPhone sejak dulu memiliki layar yang terkenal resolusinya hanya “secukupnya yang penting terlihat rapat” (saat iPhone 4 diluncurkan, hal ini dinamakan sebagai “retina display“) namun tingkat akurasi warnanya sangat baik. Resolusi yang secukupnya ini merupakan solusi yang baik untuk mengimbangi kualitas penampilan dan pemakaian daya dan sepatutnya dicontoh oleh para produsen smartphone Android. Memang warna pada layar iPhone ini tidak se-gonjreng pada layar Super AMOLED Samsung yang relatif memanjakan mata, namun saturasi layar iPhone yang lebih rendah tersebut bagi saya lebih baik jika saya hendak melihat smartphone dalam jangka waktu yang lama karena lebih tidak melelahkan mata.

DSCF5890

Kamera

Kamera dari iPhone 6s untuk tahun 2018 memang bisa dibilang bukanlah yang terbaik. Bahkan, jika harus bersaing dengan flagship Android sezamannya yaitu Samsung Galaxy S7 Edge, iPhone 6s bisa saya bilang ketinggalan secara kualitas.

Namun, kamera dari iPhone 6s dapat saya bilang dapat diandalkan. Mungkin kualitas gambar yang dihasilkan bukanlah yang terbaik, namun hasil tangkapan kameranya selalu acceptable dalam berbagai kondisi. Experience dari penggunaan kameranya juga terbilang sangat memuaskan karena app kameranya terbuka dengan cepat dan punya berbagai banyak mode (panorama, square, HDR) yang semuanya berfungsi dengan baik. Untuk kamera depannya memang tidak lebih baik dari kamera depan smartphone flagship tahun 2017, namun masih dapat bersaing plus terdapat screen flash yang mampu meratakan cahaya pada wajah saat selfie.

IMG_0783

IMG_0963

IMG_1868

IMG_0361

IMG_0622

Foto-foto dalam kondisi cukup cahaya

IMG_0379

IMG_0482

Foto-foto dalam kondisi minim cahaya

IMG_0478

Kamera depan

Dari sisi video, iPhone 6s malah dapat saya bilang lebih baik bahkan dari sebagian flagship Android tahun 2017. Saya tidak menyangka bahwa iPhone 6s EIS (electronic image stabilization) yang sangat baik dan tidak menimbulkan efek jelly sebagaimana yang saya temui di smartphone LG yang sangat saya tidak suka. Contoh video hasil tangkapan iPhone 6s dapat dilihat pada video dibawah ini.

Prosesor

iPhone secara umum memang hampir selalu memiliki prosesor yang setidaknya 1 tahun lebih maju dibandingkan prosesor Android high-end pada zamannya, sehingga tidak perlu kuatir jika Anda akan merasa ketinggalan jika Anda membeli iPhone yang sudah tertinggal dua generasi pada tahun ini (dan inilah alasan terkuat saya memberanikan membeli iPhone rilis 2015 di tahun 2018). Prosesor Apple A9 di iPhone 6s masih terasa sangat cepat untuk menjalankan berbagai tugas pada smartphone, dan bahkan masih dua kali lebih baik secara performa dibandingkan prosesor Android kelas menengah yang populer tahun lalu seperti Snapdragon 625.

Kata “performa” di atas perlu ditekankan, karena untuk aspek lainnya seperti efisiensi daya, dapat dibilang A9 sudah tertinggal sebagaimana akan dijelaskan pada bagian berikutnya.

Baterai

Mungkin masalah terbesar dari iPhone 6s, atau bahkan iPhone secara umum, adalah ketahanan baterai dari iPhone itu sendiri. iPhone hanya memiliki baterai 1715 mAh, sudah mendekati setengah dari standar smartphone Android saat ini yaitu 3000 mAh. Pemakaian berjam-jam yang sangat ringan seperti membuka Whatsapp, email, dan browsing dengan Safari mungkin hanya akan menghabiskan baterai sebesar 10% per jam, namun untuk pemakaian app yang cukup berat seperti Instagram (ya, Instagram untuk iPhone termasuk pekerjaan yang processor intensive), Facebook, dan yang paling berat yaitu tethering, iPhone dapat kehilangan baterainya sebesar 1% per 2-3 menit.

Di sisi lain, standby time dari iPhone 6s menurut saya sangatlah oke: saya bisa saja ketiduran di malam hari sekitar pukul 10 malam dengan baterai hanya bersisa 2% dan bangun jam 5 pagi dengan kondisi iPhone saya masih menyala.

Kesimpulan

Dibandingkan dengan Android, secara umum iOS menawarkan pengalaman penggunaan smartphone yang lebih kompak/unified, dimana Anda akan merasakan kemulusan yang sama sepanjang pemakaian Anda, baik untuk app bawaan iOS seperti kamera dan galeri maupun app pihak ketiga seperti Facebook, Instagram, Whatsapp, dan sebagainya.

Bagi Anda yang termasuk seorang power user atau penggemar multimedia, saya sangat menyarankan untuk membeli varian Plus karena selain memiliki layar yang lebih memanjakan untuk menonton video dalam jangka waktu panjang (dan terkadang objek pada video dapat tidak terlihat pada layar 4,7 inci di iPhone 6s), baterai dari varian Plus juga lebih dari 50% lebih besar dari varian standar. Waktu charging baterai memangakan lebih lama dan handling di tangan varian Plus mungkin akan lebih sulit bagi sebagian orang, namun saya kira timbal balik yang diberikan akan melebihi kekurangannya.

Jadi, apakah iPhone merupakan “smartphone pada tingkat kesuksesan Anda”? Jika Anda sekarang menggunakan Android dan mahir menggunakannya, saya bilang Anda tidak akan apa-apa. Barangkali jika Anda sudah memiliki dana lebih, smartphone kelas flagship dari Samsung mungkin akan lebih cocok untuk Anda dengan baterai, kamera,

Namun, jika Anda hendak membeli smartphone yang awet baik dari segi hardware maupun software – atau dengan kata lain dapat diandalkan dengan kelebihan dan kekurangan yang sudah jelas – saya kira iPhone merupakan pilihan yang baik pula terutama jika Anda tidak berniat gonta-ganti smartphone dalam jangka waktu lama.

Singkat kata, rumput tetangga memang lebih hijau dari rumput halaman sendiri, namun keindahan halaman tidak semata dilihat dari kehijauan rumputnya saja.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *