Review Xiaomi Mi A1: Xiaomi Isi Google

Android, walaupun secara mayoritas dikembangkan oleh Google, pada dasarnya merupakan OS yang open source. Setiap produsen smartphone Android seperti Samsung,  LG, HTC, dan sebagainya memiliki kebebasan untuk membuat ROM custom. Pada ROM custom tersebut, seringkali setiap produsen memiliki tampilan Android tersendiri dan penambahan fitur-fitur yang tidak terdapat pada Android “murni” bawaan Google (biasa disebut stock Android ) untuk meningkatkan nilai jual serta memberi ciri khas pada smartphone produsen tersebut.

Fitur-fitur tambahan dari produsen tersebut, di sisi lain, terkadang kurang teroptimasi, ‘memakan’ memori, hingga menghabiskan ruang penyimpanan pada smartphone secara signifikan terutama pada era awal Android tahun 2009-2013. Berdasarkan pengalaman pribadi, pada era tersebut tiap smartphone Android milik kawan atau keluarga saya selalu terasa lambat dan kemungkinan disebabkan oleh software yang begitu berat, sementara teknologi hardware belum semaju sekarang. Oleh karena itulah, pada era tersebut, saya hanya memakai iPhone (yang saya tidak sanggup untuk ikuti rilisan terbarunya karena mahal, ugh) dan Windows Phone (yang kini sudah setengah hidup) sebagai smartphone hingga akhirnya dirilislah satu smartphone dengan stock Android yang cukup menarik buat saya yaitu Moto X pada tahun 2013.

Salah satu produsen Android yang giat mengembangkan ROMnya adalah Xiaomi. Selain terkenal sebagai merk smartphone dengan “harga murah spek tinggi”, Xiaomi juga terkenal dengan ROM yang dibangun bersama dengan para “Mi Fans” yang disebut sebagai MiUI. Bahkan pada kenyataannya, sebelum smartphone pertama Xiaomi muncul pada tahun 2012, ROM MiUI sudah terlebih dahulu muncul pada tahun 2010 sebagai ROM yang dapat diinstal pada smartphone jenis Android.

Pada tahun ini, Xiaomi melakukan suatu hal yang tidak pernah saya duga sebelumnya: Xiaomi membuat sebuah smartphone dengan ROM stock Android. Artinya, Xiaomi hanya membuat hardware untuk smartphone ini, sedangkan seluruh bagian software (kecuali pada hal-hal tertentu yang akan saya bahas lebih lanjut) semuanya diserahkan kepada Google. Ya, bahkan di smartphone ini tidak akan kita temukan MiUI.

Apakah kombinasi hardware  dari Xiaomi dan stock Android Google – dalam program bertajuk Android One – ini sukses? Berikut review dari saya.

02

Hardware

Xiaomi Mi A1 memiliki desain yang mirip dengan iPhone 7 Plus dengan sebuah tombol power di sisi kanan, tombol volume di sisi kiri, kamera di sisi kiri-atas bagian belakang. Bedanya, Mi A1 tetap memiliki jack headphone pada sisi kiri-bawahnya, port USB-C di bagian bawah-tengah, serta infrared blaster di bagian atas. Pada sisi belakang terdapat juga sensor fingerprint yang, menurut saya, memiliki tingkat akurasi yang baik bahkan jika dibandingkan beberapa produsen smartphone Android lainnya (ehm, Samsung kelas midrange…). Satu hal yang paling mencolok di bagian belakang adalah adanya kamera ganda di sisi kiri atas yang akan dibahas lebih lanjut.

Body dari Mi A1 terbuat dari bahan metal  yang tergolong tipis dan ringan yaitu 156 gram. Secara pribadi, saya sendiri kurang menyukai build model ini karena walaupun bahannya sudah metal, body yang tipis membuat saya agak kuatir kalau smartphone ini suatu saat dapat tertekuk. Hal ini berbeda dengan iPhone 7 plus yang, walaupun lebih berat, berat tersebut terasa lebih substansial untuk memperkokoh smartphone secara keseluruhan. Mungkin disini Xiaomi bermaksud untuk ‘main aman’ dengan menggunakan desain yang sudah familiar (desain iPhone) dan laku di pasaran.

Layar Mi A1 membentang sebesar 5,5 inci secara diagonal dengan resolusi Full HD dan panel LTPS LCD. Secara white balance pada layar, Mi A1 cenderung cool (condong ke biru ketimbang ke kuning), namun hal tersebut tidak terlalu mencolok. Secara keseluruhan, saya cukup puas dengan kualitas layarnya dan menurut saya masih lebih baik dari smartphone lain yang sekelasnya.

Pada bagian internal, Xiaomi dibekali oleh prosesor Snapdragon 625, penyimpanan 64 GB, dan RAM 4 GB. Spesifikasi tersebut sudah cukup untuk menyimpan puluhan ribu foto jepretan, multitasking, dan memainkan game 3D yang agak berat seperti Marvel Future Fight dengan cukup lancar, walaupun mau sekencang apapun prosesornya sebagian game 3D pada Android tidak akan semulus di iPhone karena terkait dengan optimasi game itu sendiri.

Konektivitas

Bagian konektivitas adalah bagian yang jarang nampak pada spec sheet utama smartphone dan saya sendiri kuatir Mi A1 akan cukup mengecewakan pada bagian ini. Untungnya, ternyata hasilnya tidak seburuk yang saya kira.

Antena pada Mi A1 tergolong cukup baik dan saya tidak pernah mengalami signal drop yang berarti, namun beda ceritanya untuk WiFi. Saya kurang tahu ini masalah pada software atau hardware, namun Mi A1 saya cukup sering kehilangan konektivitas ke WiFi jika dibandingkan dengan Samsung Galaxy A5 2017 saya. Memang benar bukan hanya saya mengalami kendala ini, namun berhubung ini masih suara minoritas, saya tidak akan terlalu jauh dan menyebut masalah WiFi ini ‘masalah besar’.

Baterai

Disinilah prosesor Snapdragon 625 menunjukkan kefenomenalannya, seperti pada smartphone lainnya. Saya sudah mencoba menggunakan Mi A1 selama satu minggu lebih, dimana saya menggunakan sinyal 4G, cek chat dan media sosial selama kurang lebih 5 menit sekali, dan terkadang tethering. Dari baterai 100% pada jam 7 pagi, saya biasanya masih menyisakan baterai sebanyak 30% pada jam 7 malam atau kira-kira setara dengan Galaxy A5 saya.

Screenshot_20171006-201717

Software

Stock Android dari Mi A1 memang tidak terlalu penuh oleh fitur, namun untuk pengoperasian sehari-hari menurut saya betul-betul juara. Navigasi terasa lancar, multitasking sangat mulus karena kombinasi ROM irit memori dan memori besar, serta tampilannya pun enak dilihat – bagi saya tidak banyak produsen smartphone yang dapat merancang UI sebaik Google. Mi A1 juga dijanjikan akan menjadi salah satu smartphone yang akan mendapatkan update Android terlebih dahulu dibandingkan smartphone-smartphone lainnya serta mendapatkan update setidaknya hingga Android P. Artinya, setidaknya Google akan menyokong sisi software dari smartphone ini selama minimal 2 tahun ke depan. Cocok bagi Anda yang tidak ingin gonta-ganti smartphone, membutuhkan smartphone cadangan yang dapat diandalkan sewaktu-waktu, atau memang fans dari stock Android atau seri Nexus dari Google yang kini telah punah.

Xiaomi sendiri juga menyisipkan beberapa app untuk mendukung Mi A1, namun tidak mencapai taraf memberatkan dan lebih kepada sesuatu yang esensial.  App bawaan Xiaomi antara lain adalah Feedback, Mi Remote (untuk infrared blaster), Mi Community, dan Camera. Khusus untuk kamera, saya berharap Google lah yang mengembangkan app kamera untuk Mi A1 dengan alasan yang akan saya bahas di bagian selanjutnya. Namun, nampaknya hal tersebut tidak akan terjadi karena Google hanya akan mendukung app kamera dari seri Pixel mereka dan mengandalkan machine learning mereka untuk melakukan hal-hal yang dapat dilakukan oleh dual camera, seperti Portrait Mode.

Kamera

Buat mayoritas publik, saya rasa sektor inilah yang paling dijual. Bagaimana tidak, bahkan Xiaomi sendiri menggadang-gadang spek kamera Mi A1 sama dengan iPhone 7 Plus secara terang-terangan. Benarkah demikian?
Untuk saat ini, saya tidak memiliki iPhone 7 Plus untuk diadu langsung dengan Mi A1. Toh kalaupun speknya benar sama, kualitas gambar tidak hanya ditentukan oleh hardware namun juga software.

Dugaan saya nampaknya tidaklah meleset. Kualitas foto Mi A1 menurut saya sekedar “lebih baik dari rata-rata”. Berikut beberapa foto tangkapan Mi A1 dari saya dengan kondisi handheld, tanpa edit lebih lanjut, dan diambil dari Google Photos (sehingga sedikit terkompresi, namun tidak separah kompresi WhatsApp).
IMG_20171006_080409 IMG_20171006_080407_HDR

Mode Standar – Mode HDR

IMG_20171005_070708

IMG_20171008_084502

IMG_20171010_124642-e1508495708524

 

Outdoor – kondisi cukup cahaya

IMG_20171004_194505_HDR

Outdoor – Kondisi minim cahaya

IMG_20171010_133001

IMG_20171006_122421

Indoor – Kondisi cahaya buatan (artificial lighting) dan natural

IMG_20171008_083550-e1508495811458

IMG_20171004_083824-e1508495920337

IMG_20171014_133831  IMG_20171014_141100-e1508495859219

Portrait Mode dalam berbagai kondisi pencahayaan

 IMG_20171018_181656_HDR

20171018_181523

Atas: zoom lens Xiaomi Mi A1, Bawah: digital zoom Samsung A5 2017

IMG_20171010_073815

Kamera depan

Berdasarkan beberapa hasil tangkapan foto dari saya, saya mendapati beberapa hal sebagai berikut. Mi A1, seperti pada smartphone Xiaomi lainnya, cukup baik dalam menangkap foto dalam kondisi cukup cahaya serta mempunya HDR yang cukup oke. Portrait mode yang menjadi jualan Mi A1 juga dapat dikatakan berfungsi sebagaimana smartphone kelas atas lainnya: tidak sempurna, namun cukup rapi.

Kelemahan kamera Mi A1 mulai nampak dalam kondisi minim cahaya. Sangat sulit untuk memotret outdoor malam hari dan mendapatkan hasil yang oke. Dalam kondisi ini, noise mulai bermunculan dan seringkali saya mendapatkan hasil yang blur.

Potensi kamera zoom dan kamera depan juga dapat dibilang agak kurang dioptimalkan. Saya membandingkan hasil tangkapan dari Mi A1 dengan Galaxy A5 2017 dan ternyata hasil tangkapan dari lensa tidak berbeda jauh dengan hasil digital zoom, bahkan saya cenderung memilih hasil dari digital zoom. Untuk kamera depan, hasilnya juga dapat dikatakan biasa saja.

Singkat kata: Xiaomi sudah berhasil mengembangkan Portrait Mode dengan baik, namun perlu lebih rajin dalam mengembangkan software kamera untuk mode selain itu karena dari hardware yang tersedia, semestinya Xiaomi bisa lebih baik lagi.

Audio

Xiaomi juga membuat sektor audio menjadi salah satu jualan pada Mi A1 Kualitas audio pada Mi A1 singkat kata bisa saya bilang ‘terasa seperti pada smartphone yang lebih mahal’. Suara yang keluar dari speaker cukup kencang dan oke, hanya saja tidak terlalu memukau apalagi jika dibandingkan dengan Boom Sound-nya HTC. Begitu pula dengan kualitas suara dari jack headphone yang bisa dibilang baik, namun sekali lagi, tidak memukau.

Kesimpulan

Xiaomi Mi A1 secara keseluruhan merupakan smartphone yang cukup oke untuk harga yang ditawarkan. User experience yang ditawarkan dari software stock Android, ditambah dengan sentuhan-sentuhan kecil pada sisi audio, adalah fitur terbaik yang ada pada Mi A1 . Kamera yang menjadi jualan utama dari Mi A1 juga cukup baik, namun jangan berekspektasi akan terpukau dari hasil tangkapannya karena Xiaomi membandingkannya dengan iPhone 7 Plus, kecuali untuk Portrait Mode.
Pada harga yang hampir sama, terdapat juga Lenovo Moto G5s Plus yang relatif lebih ergonomis, ikut memboyong stock Android dengan sedikit sentuhan Lenovo/Moto, namun tidak tergabung pada program Android One serta memiliki portrait mode yang tidak sebaik Mi A1. Pada segmen yang sama juga terdapat LG Q6 dengan layar kekinian dengan rasio 18:9 serta build quality yang lebih superior, namun agak tertinggal di sisi lainnya terutama di sisi prosesor. Terdapat juga Samsung J5 Pro dengan layar AMOLED dan kamera yang relatif lebih baik terutama untuk video, namun lebih mahal sekitar 500 ribu dibandungkan Mi A1.

Secara umum, jika Anda memang mengincar smartphone dalam rentang harga 3 juta-an, menginginkan layar besar, dual camera, serta operasi smartphone yang lancar, saya kira Anda tidak akan kecewa dengan Mi A1.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *