Review Surface Pro 3

Ah, Windows 8. Gara-gara satu OS tersebut dan kemampuan touchscreen-nya, bermunculan berbagai komputer dengan bentuk yang ‘aneh-aneh’: Lenovo dengan seri Yoga-nya, Dell dengan XPS 12 nya, Sony dengan VAIO Duo-nya, Asus dengan seri Transformer-nya, dan masih banyak lagi. Sayangnya, hype tersebut cepat kandas karena komputer-komputer tersebut secara umum tidak memberi user experience yang baik. Bahkan, pada awal kemunculan Windows 8, laptop yang populer adalah Lenovo Yoga karena bentuknya yang masih mendekati laptop ‘normal’ walaupun layarnya bisa diputar 360 derajat sementara laptop lain layarnya dapat dicabut, berputar, dan sebagainya.

Namun mari tidak melupakan siapa yang memicu revolusi laptop-laptop ‘aneh’ tersebut: Microsoft sendiri. Microsoft mengeluarkan seri Surface yang bentuknya seperti bingkai foto, dijanjikan ‘dapat menjadi tablet’, dan sebagainya. Bisa dibilang dua generasi Surface awal merupakan flop dari Microsoft dimana komputer tersebut terlalu berat untuk menjadi ‘tablet’, layarnya terlalu kecil untuk bekerja, serta baterainya terlalu cepat habis. Barulah pada Surface Pro 3, Microsoft bisa dibilang berhasil menghasilkan produk Surface yang diminati oleh khalayak umum. Formula pada Surface Pro 3 diulangi pada Surface Pro 4 dan dikembangkan lebih lanjut menjadi Surface Book, hingga revenue divisi Surface mencapai 926 juta dolar pada Q1 tahun 2017.

Kesuksesan Microsoft ini bisa dibilang juga sebagai salah satu kesuksesan laptop berbentuk ‘aneh’ di pasaran. Pada tulisan ini, saya ingin berbagi pengalaman saya selama lebih dari dua tahun dalam menggunakan Surface Pro 3.

Mari kita mulai dari spek. Surface Pro 3 yang saya gunakan memiliki prosesor Intel Core i5 4300U (sedikit upgrade dari versi tahun 2013 yang menggunakan 4200U), kapasitas penyimpanan 128 GB, dan RAM 4 GB. Spesifikasi ini merupakan spesifikasi kedua terendah yang ditawarkan: spesifikasi terendah menggunakan Core i3 dengan penyimpanan 64 GB.

2

Eksterior Surface Pro 3 terbuat dari magnesium yang terasa sangat premium di tangan dan, seperti produk Apple, mampu mempertahankan rasa high-end hingga bertahun-tahun 

Material Luar

Eksterior Surface Pro 3 terbuat dari magnesium yang tak hanya ringan namun terasa high-end saat digenggam. Dengan bobot sekitar 800 gram tanpa type cover (sebuah aksesoris yang esensial) dan 1,1 kg dengan type cover, Surface Pro 3 cukup nyaman ditenteng maupun dibawa dalam tas dalam jangka waktu lama dan tidak akan terasa begitu memberatkan. Kickstand dari Surface Pro 3 mampu diubah sudutnya hingga hampir 180 derajat. Seiring dengan waktu, kekakuan engsel dari kickstand ini sedikit berkurang, namun untungnya tidak pernah sampai tahap mengkhawatirkan.

Prosesor dan RAM

Surface Pro 3 yang saya miliki memiliki prosesor Intel Core i5 4300U (sedikit upgrade dari versi tahun 2013 yang menggunakan 4200U). Prosesor ini saya rasa sangat memadai untuk mengerjakan segala pekerjaan saya, mulai dari membuat dokumen hingga running model satu atau dua dimensi seperti pada struktur.

Entah ini hanya terjadi pada Surface Pro 3 milik saya saja atau tidak, namun terkadang kipas pada Surface Pro 3 saya menyala cukup kencang pada saat booting hingga beberapa menit sebelum akhirnya menjadi hening padahal saya belum memulai pekerjaan berat. Sebenarnya ini bukan masalah besar, namun bagi saya hal ini patut diperhatikan.

Lain halnya dengan RAM. Model yang saya miliki mempunyai RAM sebesar 4GB. RAM ini cukup untuk browsing, running program analisis hidrolika saya, serta membuat dokumen atau spreadsheet, namun agak tersendat jika saya harus melakukan semuanya dalam jangka waktu yang lama (katakanlah lebih dari 2 jam). Menurut saya, sudah saatnya standar RAM pada laptop dinaikkan menjadi minimum 8 GB, terlebih lagi sekarang sudah banyak sekali smartphone dengan RAM 3 hingga 4 GB.

Dilihat dari spesifikasinya, sudah jelas Surface Pro 3 tidak dibuat untuk gaming kelas berat. Game seperti DotA 2 masih dapat dijalankan dengan setting rendah (resolusi HD) dan setting lainnya dibuat low dengan framerate berkisar 20-30an (pengamatan secara visual saja, tanpa perhitungan fps lewat software).

3

Keyboard, Touchpad, dan Surface Pen

Keyboard dari Type Cover Surface Pro 3 (yang dijual terpisah, uh) terasa cukup nyaman untuk digunakan dalam jangka pendek dan membuat saya dapat mengetik dengan cepat, namun untuk jangka waktu panjang keyboard tersebut mulai membuat jari-jari saya pegal jika dipakai mengetik terus menerus.

Touchpad dari Surface Pro 3 menurut saya merupakan touchpad terbaik yang pernah saya coba setelah touchpad (trackpad) dari seri Macbook, walaupun kabarnya type cover dari Surface Pro 4 memiliki kualitas trackpad yang lebih baik lagi. Walaupun kecil, setidaknya touchpad tersebut cukup akurat.

Satu aksesoris unik pada Surface Pro 3 adalah Surface Pen. Surface Pen adalah stylus khusus seri Surface (selain Surface Pro 1 dan 2) yang jauh lebih akurat dibandingkan S

Audio

Kualitas speaker dari Surface Pro 3 menurut saya tidaklah begitu spesial. Seluruh frekuensi terdengar cukup detil walaupun tidak juga mengesankan seperti layaknya Macbook terbaru, namun setidaknya audio Surface Pro 3 memiliki penempatan yang tepat yaitu menghadap ke pengguna dan tidak ke arah samping atau bawah.

Layar

Saya sangat menyukai layar 12.5 inci dari Surface Pro 3. Pada harga yang sama, mungkin banyak laptop lain yang menawarkan prosesor, penyimpanan, dan/atau RAM yang lebih besar, namun saya tidak yakin ada laptop yang memiliki layar dengan resolusi setinggi ini. Tentu saja, layar resolusi tinggi akan menguras baterai lebih cepat, namun setidaknya saya bisa mendapatkan screenshot dari dokumen yang jauh lebih tajam jika dibandingkan dengan laptop lain. Selain itu, saya juga sangat menyukai aspect ratio layar Surface Pro 3 yaitu 3:2. Rasio ini menjadikan saya memiliki lebih banyak ruang vertikal untuk menulis atau membaca dokumen panjang.

Surface Pro 3 sangat stabil ketika Anda menyentuh layarnya untuk bernavigasi berkat adanya kickstand. Layar pada laptop lain yang memiliki touchscreen seringkali berguncang saat disentuh dalam posisi Anda menggunakan laptop pada umumnya (layar tegak atau miring 10-30 derajat) dan membuat Anda menjadi kurang ingin menggunakan fitur tersebut.

Penyimpanan dan Port

Dari segi penyimpanan, saya kira awalnya 128 GB pada model yang saya miliki akan cukup untuk saya, namun perlahan-lahan kapasitas tersebut semakin tidak mencukupi. File seperti lagu dan foto mulai saya pindahkan ke MicroSD (yup, untunglah Surface Pro 3 memiliki slot MicroSD), sementara beberapa file besar yang melewati 500 MB sudah harus saya pindahkan ke external harddisk. Celakanya, Surface Pro 3 hanya memiliki satu port USB 3.0, sehingga untuk dapat mencolokkan external harddisk, saya harus mencabut mouse saya terlebih dahulu. Hal ini sebenarnya dapat diatasi karena saya juga memiliki mouse dengan kapabilitas bluetooth tanpa dongle yang menggunakan port USB, namun terkadang saya juga senang menggunakan mouse gaming milik saya karena terdapat beberapa tombol yang dapat diprogram untuk memudahkan pekerjaan. Lalu, tentu saja, mouse tersebut membutuhkan port USB.

Satu port lagi yang terdapat pada Surface Pro 3 adalah MiniDisplay Port. Menurut saya, terdapat kelebihan dan kekurangan tersendiri dalam menggunakan MiniDisplay Port. Kekurangan utamanya adalah tentu saja saya harus membeli adapter dari MiniDisplay Port ke VGA atau HDMI ketika saya hendak presentasi, namun di sisi lain MiniDisplay Port umumnya hanya ada di perangkat high-end seperti Macbook Air, sehinga adaptornya pun (semestinya) dibuat berkualitas dan saya tidak perlu kuatir port saya akan rusak, setidaknya dalam usia layan optimal laptop saya (saya menargetkan lima tahun).

Software

Mungkin ada yang bertanya: mengapa saya membahas software untuk Surface Pro 3, padahal jelas-jelas OSnya Windows, tidak ada bedanya dengan laptop lain (selain Macbook dan Chromebook, tentunya).

Namun ternyata tidak demikian. Perbedaan Windows pada seri Surface dengan lainnya adalah Windows yang didapat benar-benar ‘bersih’: tanpa bloatware, promosi, dan sebagainya. Hasilnya adalah out of the box user experience yang menurut saya memuaskan tanpa gangguan apapun. Selain itu, Surface Pro 3 hingga kini masih mendapat firmware update untuk menjaga perangkat tersebut bekerja secara optimal, padahal komputer ini sudah dua tahun lebih usianya. Tidak banyak laptop lain yang mendapatkan firmware update seperti itu setelah dua tahun.

4

Untuk Siapa?

Dengan kombinasi hardware seperti ini, saya menilai Surcace Pro 3 paling cocok digunakan untuk pelajar. Ukurannya yang kecil namun lebih dari cukup powerful untuk menulis essay, membuat presentasi, dan browsing di internet. Layarnya juga cukup tajam dan nyaman dipandang walaupun saya kurang menyarankan untuk membaca paper dalam jangka waktu panjang, kecuali Anda menggunakan program penyaring blue light seperti f.lux (kabar baiknya, update pada Windows berikutnya akan menyediakan fitur seperti pada f.lux built in ke dalam Windows). Surface Pen juga bisa digunakan untuk memberi tanda pada catatan-catatan kuliah Anda. Jika Anda adalah seorang pelajar yang mengambil engineering, kemungkinan Anda akan menggunakan desktop di kampus untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan berat sehingga Anda tidak perlu melakukan instalasi software berat tersebut pada Surface Pro 3 Anda.

Untuk keperluan kerja engineering (untuk kasus ini yang saya tahu adalah civil engineering karena itu merupakan bidang saya), Surface Pro 3 cukup dapat diandalkan jika pekerjaan Anda sebagian besar adalah mengetik dokumen, mengoreksi pekerjaan engineer lain (dapat dibantu juga dengan Surface Pen), atau membuat presentasi. Bobotnya yang ringan juga dapat menguntungkan para engineer lapangan untuk membawa komputernya kemana-mana walaupun saya menyarankan untuk memberikan proteksi ekstra untuk menghindari kerusakan dikala jatuh. Saya juga tidak menyarankan untuk membawa Surface Pro 3 atau laptop apapun ke lingkungan yang penuh debu dan pasir karena khawatir akan mempengaruhi kinerja kipasnya. Untuk pemodelan 1D seperti pemodelan hidrolika, 2D seperti pemodelan garis pantai atau 3D seperti analisis struktur makro pun bisa dibilang Surface Pro 3 masih mumpuni, namun jika sudah pemodelan berat seperti arus/gelombang 2D dan analisis dinamik untuk mengecek tegangan pada komponen struktur 3D, saya lebih menyarankan untuk menggunakan desktop atau laptop high-performance.

Video editing pada Surface Pro 3 juga bisa dibilang hanya dapat dilakukan dengan baik jika Anda hanya melakukan editing ringan seperti pemotongan dan penyambungan klip. Untuk editing berat yang menggunakan efek khusus dan berlapis-lapis klip, saya tidak menyarankan Surface Pro 3, setidaknya untuk konfigurasi saya. Jika Anda ingin mengedit video pada Surface Pro 3, belilah versi i7 dengan RAM 8 GB atau lebih tinggi lagi.

Para seniman nampaknya akan menyukai Surface Pen, namun saya secara pribadi agak menyangsikan hal itu. Surface Pen memang cukup presisi dalam menggambar, namun terkadang seniman membutuhkan presisi yang lebih tinggi dari apa yang dipersepsikan orang secara umum ‘sudah cukup presisi’. Jika Anda seorang seniman profesional, saran saya tetaplah menggunakan perangkat digitizer profesional seperti dari Wacom.

Kesimpulan

Surface Pro 3, setidaknya untuk saya, merupakan satu perangkat yang sangat membantu pekerjaan saya sehari-hari. Mahasiswa akan sangat terbantu dengan bobotnya yang ringan, performa yang handal, serta layar yang tajam. Adanya pulpen juga dapat membantu Anda untuk mengilustrasikan berbagai hal dengan mudah, terlebih lagi app seperti WhatsApp kini sudah ada versi webnya sehingga Anda dapat mengirim gambar dengan cepat. Untuk keperluan komputasi berat, mungkin ada baiknya Anda membeli model i7 dengan RAM dan penyimpanan yang lebih besar.

Apakah saya akan membeli Surface Pro berikutnya jika sudah lewat lima tahun? Mungkin, terutama jika ada port USB-C yang memungkinkan saya menggunakan GPU eksternal. Saya pun tidak akan membeli model 4GB lagi karena ternyata cukup membatasi saya dalam pemakaian standar saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *