Review Huawei P9 Lite

Tahun 2016 mungkin bukanlah tahun keberuntungan saya dalam hal gadget: Xiaomi Mi5 saya gagal melakukan flashing, LG G4 saya mengalami bootloop (yang ternyata menjadi isu internasional), serta Pebble Time saya dalam waktu 1 atau 2 tahun kedepan mungkin tidak akan disupport lagi oleh Pebble.

Kendati demikian, saya masih memiliki prinsip yang sama dalam membeli smartphone: jangan pernah membeli smartphone diatas 5 juta rupiah, kalau bisa bahkan dibawah 4 juta rupiah, sebab smartphone malah tidak selalu menjamin keawetan. Tengok saja kejadian Galaxy Note 7 yang terbakar yang sempat menjadi kehebohan tahun ini.

Setelah melewati sekian smartphone yang bermasalah, dengan memegang prinsip diatas, saya pun dihadapkan pada beberapa pilihan smartphone yang, harapan saya, setidaknya dapat awet dalam satu tahun kedepan atau syukur-syukur dua tahun lebih. Ada tiga smartphone yang masuk dalam radar saya, yaitu ASUS Zenfone 3 (Laser), Oppo F1s, dan Huawei P9 Lite. Zenfone 3 punya kamera yang unggul dan prosesor Qualcomm, namun dipenuhi dengan bloatware yang berpotensi memperlambat smartphone serta menyedot baterai. Oppo F1s punya desain yang bagus sekali, namun sayang layarnya masih 720p, ukurannya agak terlalu besar untuk saya, serta saya bukan orang yang hobi selfie.

Jadi, bagaimana dengan P9 Lite yang akhirnya saya pilih? Nampaknya saya mengambil keputusan yang cukup tepat.

3w

Desain

P9 Lite sejujurnya cukup membosankan jika dilihat dari depan: seperti smartphone pada umumnya, P9 Lite hanya berbentuk persegi panjang hitam dengan logo Huawei di bagian bawah. Untungnya pada sisi lain dari smartphone tersebut cukup menarik. Pada sisi kanan terdapat tombol power dan volume – posisi favorit saya untuk sebuah smartphone berukuran 5.2 inci seperti P9 Lite dan Xiaomi Mi5. Di bagian bawah terdapat slot microUSB dan dua speaker grill ala iPhone, namun hanya speaker kananlah yang mengeluarkan suara. Pada sisi kiri terdapat slot kombinasi SIM dan microSD – Anda bisa memilih untuk menggunakan dua SIM atau satu sim dengan satu microSD. Pada bagian atas terdapat jack untuk headphone – sesuatu yang mungkin dalam dua tahun kedepan mungkin tidak akan lagi ditemukan pada smartphone kelas atas.

Bagian belakang P9 Lite menurut saya adalah bagian paling menarik. Di bagian ini terdapat kamera, flash, serta fingerprint sensor. Body pada bagian belakang ini terbuat dari bahan matte (setidaknya untuk varian warna hitam milik saya) serta pada sisi kamera terdapat bagian gloss ala Nexus 6P.

4w

Tebal smartphone ini hanyalah 7.5 mm, sebuah tebal yang menurut saya cukup pas. Bagian belakang yang datar saya kira awalnya akan membuat smartphone ini sulit digenggam layaknya seri Xperia dari Sony, namun ternyata bagian belakangnya yang terbuat dari plastik berwarna matte membuat smartphone ini tidak licin.

2w

Spesifikasi Internal, Performa, dan Antar Muka

P9 Lite memiliki prosesor buatan Huawei sendiri yaitu Kirin 650, memori internal, 16 GB, RAM 3 GB, Android 6.0 Marshmallow (mudah-mudahan diupgrade sampai Nougat, aamiin!). Saya sendiri kurang mengetahui performa dari prosesor ini, namun dugaan saya sekelas dengan Snapdragon seri 600 seperti dikonfirmasi oleh review ini. Scrolling terasa sangat mulus serta buka tutup aplikasi terasa cepat. Dalam waktu saya selama kurang lebih 2,5 bulan dengan P9 Lite ini, saya cukup jarang merasakan perlambatan karena RAM penuh, namun jika memang benar-benar membutuhkan pembebasan RAM, Huawei menyediakan fitur clean memory pada tampilan multitasking seperti pada smartphone Xiaomi. Secara umum, dari segi kemulusan penggunaan sehari-hari, smartphone dengan harga 2 juta keatas sudah sangat baik dan hampir tidak dapat dibedakan hingga kita membuka beberapa aplikasi – itupun tidak signifikan.

Saya sendiri bukan orang yang sering bermain game di smartphone, namun tentu review performa tidak lengkap tanpa performa gaming. Saya mendownload Marvel Future Fight untuk menguji kemampuan gaming nya dan rupanya P9 Lite cukup mumpuni untuk gaming. Performa sangat mulus kecuali pada saat karakter mengeluarkan jurus andalannya dimana terdapat drop frame pada saat tersebut, namun di sisi lain hal tersebut juga saya temukan di Mi5 dan nampaknya hal ini merupakan masalah optimasi game yang tidak akan pernah sempurna di Android.

Layar P9 Lite menggunakan panel IPS dengan akurasi warna yang bisa dibilang cukup baik, walaupun tidak dapat sejenuh Samsung Galaxy seri S dengan AMOLED-nya. Layar IPS ini mungkin bukanlah favorit saya – saya masih lebih menyukai IPS di Mi5 saya – namun tidak hingga ke tahap tidak suka juga.

P9 LIte memiliki antarmuka Emotion UI (EMUI) yang terasa begitu mirip dengan MiUI milik Xiaomi, terutama pada tampilan home screen, pemutar musik, dan lain sebagainya yang terasa begitu sama. EMUI tidak memiliki app drawer – buat saya ini bukan masalah karena aplikasi saya tidak banyak, namun untuk beberapa kalangan hal ini adalah kemunduran. Tentunya Anda dapat dengan mudah mengganti antarmuka lain seperti Google Now Launcher dan Nova Launcher jika Anda tidak puas dengan EMUI.

 

Kamera

Kamera utama dari P9 Lite memiliki resolusi 13 MP dan memiliki banyak sekali fitur seperti Beauty, Panorama, Time Lapse (cool!), Pro Photo (mode manual), Night Shot, Light Painting, HDR, Good Food (ehm, sekilas hanya menambahkan saturasi warna), All Focus, dan Document Scan. Kualitas gambar kamera P9 Lite menurut saya cukup baik jika dipakai diluar ruangan baik siang maupun malam, namun kurang baik dalam menghadapi artificial lighting seperti saat di dalam ruangan. Secara keseluruhan, saya menilai P9 Lite bisa diandalkan dan dapat disandingkan dengan kamera flagship tahun 2015, selama Anda tidak berada di ruangan dengan satu sumber cahaya lampu seperti di kamar sendiri. Untuk kamera depan P9 Lite, walaupun mencapai 5 MP, saya rasa memiliki kualitas yang biasa saja. Beberapa contoh gambar dari P9 Lite dapat dilihat pada gambar-gambar berikut (catatan: resolusi diturunkan untuk mengurangi load time halaman ini):

1a

7a

6a

5a

4a

3a

 

Untuk video, bisa dibilang P9 Lite cukup bisa diandalkan. Mungkin videonya tidak akan sebaik iPhone 6s/7 atau Samsung Galaxy S7, namun setidaknya menurut saya “cukup dapat diandalkan”. Terdapat juga fitur Pro Video yang memungkinkan Anda mengatur setting video secara manual dan tentunya akan berguna jika Anda seorang vlogger yang tidak ingin setting kamera berubah-ubah secara otomatis pada saat-saat tertentu walaupun tidak bisa merekam hingga resolusi 4K. Contoh video dapat dilihat dibawah ini:

Audio

Saya kira tidak ada yang mencengangkan dari P9 Lite dari sektor audio. Speakernya yang terletak di bagian bawah tentu tidak akan dapat sekencang Nexus 6P ataupun HTC M8 atau M9, namun lokasi speaker di bawah masih jauh lebih baik ketimbang di belakang seperti layaknya pada smartphone dari LG. Audio dari headphone juga dapat dibilang biasa saja dan setara dengan smartphone di harga yang setara. Kualitas suara panggilan dapat saya bilang baik walaupun tidak spesial seperti pada Motorola. Berhubung saya bukan seorang audiophile, sektor audio yang ‘biasa’ tanpa kekurangan berarti (misalnya, karena speaker di belakang), sudah cukup bagi saya.

Sinyal

Entah mengapa, namun mungkin karena pengalaman Huawei yang sangat mumpuni dalam membuat modem dan perangkat telekomunikasi lainnya, sinyal yang terima di P9 Lite terasa diatas rata-rata. Saya selalu kehilangan sinyal 4G di tempat tidur saya dengan smartphone lain, namun tidak demikian dengan P9 Lite. Sinyal yang saya terima melemah, namun tidak sampai hilang dan akhirnya menguras baterai akibat smartphone yang mengeluarkan daya lebih untuk mendapatkan sinyal. Kalau Huawei bisa konsisten di bidang satu ini pada jajaran smartphone mereka, tidak sulit bagi mereka untuk mendapatkan fans setia.

screenshot_2016-12-31-22-22-06

Baterai

Inilah bagian paling ajaib pada P9 Lite. P9 Lite memiliki baterai 3000 mAH – sama dengan flagship lainnya, namun entah mengapa dapat lebih hemat 30 hingga 40 % dari flagship setara yang pernah saya pakai seperti LG G4. Perkiraan saya, hal ini disebabkan resolusi P9 Lite yang berada dibawah flagship pada umumnya (1080p vs. 1440p) dan memory management EMUI yang cukup baik.

Dengan pemakaian standar saya (dicabut dari charger pada jam 5-6 pagi, lalu dipakai sesekali saat bekerja hingga jam 7 malam), saya biasanya hanya kekurangan sekitar 80%. Hal ini membuat saya terkadang cukup percaya diri berangkat bekerja dengan baterai hanya 60%an, karena saya cukup yakin baterai saya baru akan habis saat saya kembali ke rumah ditambah lagi saya selalu bisa mengisi baterai saat bekerja. Dalam keadaan darurat, saya selalu bisa mengaktifkan power saving mode yang dapat menghemat baterai lebih jauh lagi atau dengan sesederhana mematika mobile data saat tidak dibutuhkan.

P9 Lite mungkin tidak memiliki fitur fast charging, namun selama baterainya bisa bertahan lebih dari 12 jam dalam sekali full charge, saya tidak keberatan sama sekali P9 Lite tidak dapat fast charging karena saya tidak perlu mengisi ulang sering-sering ditambah fast charging akan mengurangi umur baterai lebih cepat akibat panas.

Kekurangan

Jika ‘kekurangan’ menjadi bab tersendiri, tentu artinya tidak ada masalah di sektor-sektor utama, bukan? Nah, belum tentu, bisa jadi sektor ‘lain-lain’ inilah yang menjadi dealbreaker. Apa saja kekurangan dari P9 Lite?

P9 Lite tidak memiliki fitur USB OTG (on the go, USB yang dapat difungsikan untuk transfer data). Jika Anda sudah banyak berinvestasi dalam ekosistem OTG, Anda akan kecewa karena Anda tidak dapat memindahkan file dari flash drive ke P9 Lite melalu port microUSB, misalnya jika Anda ingin menonton film di smartphone saat berada di pesawat sementara storage dari smartphone Anda tidak mencukupi. Ditambah lagi, memori internal P9 Lite hanyalah 16 GB yang akan cepat habis oleh foto WhatsApp, video, aplikasi, dan musik.

P9 LIte juga tidak dilengkapi dengan Gorilla Glass. Saat saya hendak membeli P9 Lite, sales di counter tempat saya akan membeli bilang bahwa kaca pada P9 Lite sudah sekelas Gorilla Glass sambil menunjukkan layar smartphone tersebut digores dengan kunci dan dibakar, walaupun ia juga mengakui bahwa jika layar bertabrakan dengan batu kemungkinan gores ataupun pecah selalu ada.

Kesimpulan

Untuk saya, Huawei P9 Lite merupakan sebuah ‘paket komplit’ untuk kelasnya: desain elegan yang cukup meyakinkan di ruang rapat, antarmukanya cukup nyaman dan tidak kompleks, performa yang tanpa masalah berarti, kamera dapat diandalkan, dan yang terpenting baterainya sangat tahan lama.

Apakah saya akan merekomendasikan smartphone ini? Jika memang Anda mengincar smartphone dengan harga dibawah 4 juta dan memiliki nilai ‘baik hingga sangat baik’ untuk fitur-fitur yang esensial dan tanpa kekurangan berarti, tentu saja! Hingga tulisan ini dibuat, Huawei P9 Lite dibandrol dengan harga 3,6 juta rupiah dengan termasuk goodies (bervariasi tergantung toko, namun pastikan Anda minimal mendapatkan microUSB) dan garansi resmi 1 tahun untuk peace of mind. Saya kira P9 Lite dan Huawei secara umum cukup sukses di Indonesia, melihat kakaknya, Huawei P9 yang memiliki kamera yang di engineer bersama Leica, baru saja masuk ke Indonesia dengan harga yang sudah pasti lebih tinggi.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *