Webinar Mata Garuda “Bangunan Pantai untuk Melindungi Ibukota Negara Indonesia”: Arsip dan Q&A

Alhamdulillah pada hari Rabu 21 September 2016 lalu webinar yang diadakan oleh Mata Garuda sudah selesai dilaksanakan. Saya sendiri secara pribadi sangat tertarik terhadap seminar model ini karena dapat menembus batas-batas wilayah di Indonesia dan terlebih lagi dunia tanpa biaya apapun sehingga ketimpangan pendidikan dan informasi antar daerah, terutama di Indonesia, dapat semakin berkurang. Mudah-mudahan bermanfaat dan mohon maaf atas lebih kurangnya 🙂

Bagi yang ingin menonton, arsip dari webinar “Bangunan Pantai untuk Melindungi Ibukota Negara Indonesia” dapat dilihat disini. Secara umum, saya melihat para mahasiswa di Indonesia, setidaknya di bidang Teknik Kelautan, sudah cukup mengerti bedanya reklamasi dengan NCICD dengan tidak adanya pertanyaan yang mencampuradukkan kedua hal tersebut. Mohon maaf sebelumnya karena ada gangguan teknis selama sekitar 15 menit dan menyebabkan satu pertanyaan tidak terjawab saat itu.

Namun sebagai gantinya, saya akan jawab pertanyaan yang belum saya jawab pada webinar beserta 9 pertanyaan lainnya yang sudah dirangkum oleh moderator di blog post ini. Mudah-mudahan cukup menjawab 🙂

 

Q1: kalo dilihat di peta posisi pantai mutiara sama dengan muara baru, bagaimana kondisi di muara baru saat itu? Apakah juga mengalami banjir rob?

Muara Baru yang saya tahu tidak mengalami rob pada saat itu. Namun tanggul pada pelabuhan di depannya (Nizam Zachman) mengalami jebol yang mengakibatkan rob.

Q2: dengan fenomena di pantai mutiara jakarta apakah dalam pembangunannya tidak mmerhatikan sempadan pantai?

Untuk soal ini saya belum bisa menjawabnya, namun dalam proses riset oleh saya dan saat ini saya sedang menanti copy AMDAL Pantai Mutiara dari pihak BPLHD DKI Jakarta. Mudah-mudahan nanti ada jawabannya 🙂

Q3: Master Plan ini apa hanya untuk Jakarta?

Untuk Master Plan NCICD memang hanya berlaku untuk DKI Jakarta dan sedikit mengenai Tangerang serta Bekasi, namun pekerjaan serupa juga dilakukan di daerah lainnya seperti di Semarang yang saat ini sedang ikut mempelajari efektivitas tanggul terbaru DKI Jakarta.

Q4: Sejauh ini, rekomendasi NCICD ini sudah dikomunikasikan dengan pemda setempat atau belum? Jika sudah, apa tanggapan & rencana ke depan?

Yang saya tahu, rekomendasi NCICD sudah dikomunikasikan dengan Pemda setempat terutama Jakarta, dimana pada rapat koordinasi Pemda melalui Dinas Tata Air ikut hadir.

Q5: Untuk plan pengadaan tanggul ini, apakah semua stakeholders dari engineering, contractors, fabricator, sudah mampu 100% dalam negeri? (misal : untuk tanggul pasir, menggunakan kapal dredging, alat2 berat lainnya) atau masih membutuhkan bantuan asing? Jika iya bagian apa saja?

Yang ini terjawab dalam video (bagian akhir) 🙂

Q6: Tadi dikatakan bahwa tanah Jakarta terus mengalami penurunan. Nah, apa dampak penurunan ini terhadap desain tanggul?

Desain tanggul memperhitungkan penurunan tanah. Nilai +4.8 mLWS (lowest water spring, elevasi muka air terendah selama 18,6 tahun) berasal dari Master Plan NCICD, namun nilai tersebut dapat ditaksir dengan perhitungan sebagai berikut:

Elevasi puncak tanggul = Highest Water Spring (elevasi muka air tertinggi selama 18,6 tahun) + 0.5 tinggi gelombang 100 tahun-an + kenaikan muka air laut (sea level rise) + freeboard (ruang ‘spare’ antara elevasi muka air tertinggi akumulasi perhitungan dengan puncak tanggul, nilainya berdasarkan judgement)
= 1.19 (sumber: Master Plan NCICD) + (0.5 x 3.5) + (0.075 x 15 [hingga tahun 2030 dari 2015]) + (0.008 x 15) + 0.6 = +4.785 ~ +4.80 mLWS.

Q7: Mau menambahkan pertanyaan mengenai penurunan elevasi di Jakarta, Saya memiliki pendapat bahwa ada 2 faktor yang mungkin terjadi, elevasi tanah benar-benar turun dan air laut yang semakin naik akibat pencairan es dari kutub. Bagaimana pendapat tersebut, Mas ?

Betul. Dalam Master Plan NCICD disebutkan bahwa muka air laut memang naik sebesar 8 mm/ tahun, namun efeknya tidak sesignifikan penurunan tanah yang dapat mencapai 75 mm/tahun.

Q8: bicara tentang spasial kota Jakarta, tidak dipungkiri dengan adanya penduduk yang bisa dibilang melebihi batasnya, lalu apakah master plan ini hanya terfokus dengan pembuatan tanggul saja tanpa mempertimbangkan penduduk di Jakarta, entah pemberdayaan atau apa? lalu apakah benar-benar tidak ada dampak dari itu semua sehingga tidak diperhitungkan di master plan tadi? Terima kasih

Sejujurnya saya kurang paham pertanyaan ini, namun saya tangkap ini mengenai ‘ledakan’ penduduk yang berpotensial terjadi karena NCICD. Master Plan NCICD, seperti Master Plan lainnya, tentu memperhitungkan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat walaupun mungkin tidak terlalu signifikan untuk Tahap A karena Tahap A sifatnya lebih ke memperkuat tanggul-tanggul yang ada. Masterplan selengkapnya dapat dibaca disini.

Q9: Pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2014 Tentang PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL disebutkan bahwa sempadan pantai minimal 100 meter. Di pantai utara DKI Jakarta terdapat apartemen/hotel-hotel tinggi yang jaraknya kurang dari 100 meter, jika saya ukur dari google maps jarak bangunan tersebut <50m. Bagaimana menanggapi kebijakan seperti ini , mas ? Apakah tetap dibangun tanggul untuk mengurangi abrasi oleh gelombang air laut ? Jika tetap dibangun tanggul, apakah mungkin terjadi hal yang sama (pembangunan gedung-gedung tinggi) di sepanjang pantai, pantai utara terutama.

Yang ini terjawab dalam video, namun saya akan tambahkan sedikit. Pantai di Jakarta memang mengalami abrasi, namun risikonya tidak sesignifikan dari penurunan tanah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *