Laptop “untuk Mahasiswa”

Tahun ajaran baru telah tiba! Sebagian dari kita mungkin baru akan memulai kuliah, sementara sebagian lain sudah berkuliah beberapa tahun dan mungkin memiliki laptop yang sudah perlu diganti.

Sebenarnya, ketika Anda sudah memiliki komputer desktop pribadi atau milik kampus yang powerful, menurut saya yang perlu difokuskan pada laptop tersebut hanyalah baterai dan beratnya saja, karena laptop tersebut hanya akan berfungsi untuk editing ringan, presentasi, atau sekedar mengetik. Pekerjaan-pekerjaan berat seperti pemodelan sudah dilakukan di komputer yang lebih mumpuni.

Namun di Indonesia, pada kenyataannya hal tersebut cukup jarang terjadi. Tidak semua kampus yang memiliki laboratorium komputer dengan software lengkap dan buka hingga larut malam demi memfasilitasi mahasiswa-mahasiswanya. Selain itu, kita pun seringkali dihadapkan pada situasi dimana kita memerlukan kerja kelompok dengan mahasiswa-mahasiswa lainnya dan sulit untuk melakukan hal tersebut di laboratorium komputer karena ada tawaran untuk bekerja sambil nongkrong di tempat makan yang kece.

Dengan kata lain, laptop yang dipakai adalah komputer satu-satunya dan akan menjalani semua pekerjaan Anda. Pertanyaannya, laptop seperti apakah yang Anda butuhkan? Apakah rekomendasi dari penjual laptop di toko-toko komputer kesayangan Anda tentang “laptop mahasiswa” sudah tepat?

Pada post kali ini, saya akan berbagi rekomendasi kriteria hardware untuk laptop kuliah berdasarkan pengalaman saya. Saya memfokuskan rekomendasi ini pada laptop dengan sistem operasi Windows dengan harga dibawah 10 juta, karena pada umumnya para mahasiswa di perguruan-perguruan tinggi – terutama perguruan-perguruan tinggi negeri – masih menggunakan laptop dengan konfigurasi dan rentang harga tersebut. Saya pun tidak memberikan rekomendasi merk pada artikel ini karena secara umum karena laptop-laptop dari setiap merk cukup identik secara spesifikasi dalam rentang harga tersebut.

Sedikit tambahan latar belakang: saya sendiri mantan mahasiswa teknik kelautan (mirip teknik sipil, hanya saja bangunannya di kawasan pesisir dan laut) yang seringkali menjalankan simulasi analsiis struktur, hidrolika, serta menyusun tabel Excel dan Powerpoint dalam skala besar (lebih dari 10 tab penuh hitungan untuk Excel dan 50 halaman penuh gambar untuk PowerPoint) dan masih aktif melakukan pekerjaan tersebut hingga selesai berkuliah S2 dan sekarang secara profesional.

1 RAM

RAM pada laptop (Sumber: Storage Review)

1. Memori (RAM)

Kalau kita pergi ke toko komputer, seringkali para pedagang bertanya, “laptopnya mau dipakai untuk apa?” lalu kita menjawab, “ya paling buat Office, jalanin software-software yang nggak terlalu berat, sesekali main game” dan diakhiri dengan “oh kalau begitu RAM 4 giga udah cukup kok.”

Hal itu mungkin benar, namun sayangnya pada kenyataannya yang kita lakukan bukanlah itu yang kita lakukan. Sambil membuka office, kita juga membuka dokumen, menyetel musik atau bahkan YouTube, membuka browser yang memakan RAM seperti Chrome dengan belasan tab terbuka, membuka beberapa file PDF untuk bahan yang diketik, lalu di balik semua itu masih ada antivirus, aplikasi chat, dan sebagainya.

Tentu saja hal ini sangat membebani RAM Anda, dan berdasarkan pengalaman saya, dalam pemakaian standar (file Office terbuka hingga 3-4 file, PDF 3-4 file, browser  membuka belasan tab), umumnya penggunaan memori saya mencapai 6 GB. Belum lagi jika Anda sering-sering hibernate komputer Anda.

Apa yang terjadi jika Anda kehabisan RAM? Hal yang paling terasa adalah komputer mulai menggunakan storage Anda untuk menjadi RAM sementara serta butuh waktu yang lebih lama untuk membuka berbagai file yang telah Anda buka.

Oleh karena itu, saya sangat merekomendasikan Anda untuk memiliki laptop dengan RAM setidaknya 8 GB. Jika Anda merasa RAM sebanyak itu hanya ditemukan di laptop-laptop high-end, jangan kuatir. Selama komputer Anda dapat diupgrade, Anda cukup membeli RAM tambahan dan memasangnya pada slot RAM yang tersedia (jika ada) atau mengganti RAM yang sudah ada menjadi RAM dengan kapasitas yang lebih tinggi.

RAM 4 GB kondisi baru kini umumnya cukup murah yaitu pada kisaran Rp250.000,00. Selain itu, tidak sedikit pengguna laptop yang harus mencabut RAM lamanya dengan RAM berkapasitas lebih tinggi karena hanya punya satu slot RAM, sehingga jika Anda memiliki dua slot RAM Anda bisa mendapatkan RAM 4 GB bekas dengan kualitas yang masih baik.

2 Processor

Prosesor komputer (Sumber: Terapeak)

2. Prosesor

Kini, menurut saya kecepatan prosesor untuk keperluan sekolah tidaklah sepenting pada tahun 90an (dan saat itu mungkin anak sekolahan pun masih menggunakan desktop).

Saya kurang pengalaman menggunakan prosesor AMD sehingga saya tidak dapat berkomentar tentang rekomendasi prosesor AMD. Untuk sisi Intel, saya menyarankan agar Anda membeli laptop dengan prosesor yang tidak lebih tua dari generasi 4 (Haswell), karena pada Haswell terdapat lonjakan efisiensi konsumsi daya yang cukup signifikan dari generasi sebelumnya (Ivy Bridge). Efisiensi ini akan berpengaruh kepada durasi baterai dan laptop Anda pun menjadi tidak sepanas dan sebising laptop dengan generasi sebelumnya.

Kelas prosesor yang digunakan tergantung pada penggunaan Anda. Jika sebagian besar pekerjaan Anda hanya menulis, Atom ataupun Pentium sudah cukup untuk Anda karena prosesor dengan power rendah seperti seri Atom akan menghemat baterai. Jika Anda sering melakukan pekerjaan berat dengan Microsoft Office (Excel, Word, PowerPoint) dengan banyak gambar dan tabel-tabel perhitungan yang besar, saya menyarankan minimum Core i3 atau bahkan i5 jika memungkinkan. Saya sendiri belum pernah memiliki laptop dengan i7 (versi low-power maupun quad-core), namun Core i7 – terutama versi quad-core dan dibantu dengan RAM yang besar – akan sangat membantu jika Anda sering melakukan running pada software pemodelan dalam jangka waktu lama. Diluar itu, i7 quad-core hanya akan membuat laptop Anda boros baterai.

Saya sendiri sering melakukan pemodelan struktur bangunan dengan hanya menggunakan i5 low-power (i5-4300U) dan saya rasa cukup untuk melakukan hal tersebut. Proses running dalam pemodelan yang biasa saya lakukan hanya berkisar pada 10-15 detik dan tentunya quad-core sekalipun tidak akan membantu banyak.

3 SSD

Solid State Drive (Sumber: techreport.com)

3. Penyimpanan

Satu kata: SSD alias Solid State Drive!

(Lho katanya satu kata…)

Semenjak saya mengganti storage saya dengan SSD pada tahun 2013, saya tidak mau lagi menggunakan hard disk drive (HDD) pada komputer saya. Berdasarkan pengalaman saya, SSD berkali-kali lebih cepat dari HDD (salah satu artikel perbandingannya dapat Anda lihat disini) untuk melakukan berbagai hal pada komputer mulai dari startup/shutdown hingga membuka aplikasi atau file, tahan guncangan, dan lebih jarang error (sekali lagi, ini berdasarkan pengalaman ya).

Mengapa mahasiswa butuh storage cepat? Karena mahasiswa pada umumnya akan berurusan dengan banyak sekali file dalam pekerjaannya dan akan terjadi banyak buka-tutup file. Namun, bagi saya setidaknya terdapat dua kondisi penting dimana saya sangat butuh storage cepat: presentasi dan pencarian file. Kita tentu tidak mau membuang banyak waktu orang lain saat presentasi dan tentunya melakukan pencarian (search) dengan Ctrl+F lalu menulis kata kunci yang kita cari pada judul file (atau bahkan dalam file-file yang ada) dengan cepat akan sangat membantu dalam menulis laporan.

Kelemahan utama SSD terletak pada harga per GB yang relatif mahal dibandingkan dengan HDD, namun untungnya harga SSD cenderung menurun. Pada generasi awal, harga SSD sekitar 10 ribu rupiah per GB. Kini, harga SSD bahkan sudah mencapai 5 ribu rupiah per GB.

Untuk keperluan mahasiswa, saya menyarankan storage minimal sebesar 128 GB, namun akan jauh lebih baik jika Anda memasang 256 GB pada laptop Anda agar Anda lebih leluasa.

Mungkin Anda akan bertanya, “kok kecil amat? Laptop saya yang storagenya 500 GB saja sudah mau habis, apalagi 256 GB.” Terkait hal tersebut, jangan kuatir, karena sebenarnya saat ini pun mungkin bukanlah file-file penting sebagai mahasiswa lah yang banyak memenuhi storage Anda.

Pada zaman sekarang mungkin Anda sudah tidak perlu lagi menyimpan lagu di laptop Anda karena sudah ada music streaming service seperti Spotify dan YouTube untuk memutar musik, gambar-gambar favorit Anda mungkin sudah Anda unggah di Facebook atau penyimpanan cloud seperti Google Drive, serta koleksi video Anda sudah berada di dalam harddisk external Anda. Dengan demikian, yang tersisa di komputer Anda hanyalah aplikasi dan file untuk pekerjaan Anda yang – saya cukup yakin – sebagian besar tidaklah sebesar ketiga jenis file yang sudah saya sebutkan sebelumnya.

Saat saya berkuliah S1 beberapa tahun yang lalu, saya mengganti hard disk drive pada laptop Acer Timeline X saya dengan SSD 240 GB. Hasilnya? Saya dapat mencari file-file yang saya butuhkan untuk laporan Tugas Akhir dengan sangat cepat, mempercepat proses iterasi model saya, dan yang paling penting berhasil lulus tepat dua hari sebelum batas terakhir sidang Tugas Akhir.

(Yaa…mungkin kalau saya sedikit lebih rajin, dengan hard disk lambat pun semestinya tidak akan semepet itu, sih)

Kini, saya sendiri sudah hampir dua tahun memakai laptop dengan storage hanya 128 GB, ditambah 64 GB microSD untuk menyimpan gambar dan lagu, serta harddisk eksternal untuk menyimpan file-file besar dan saya merasa konfigurasi yang ada sudah mencukupi kebutuhan saya.

4 GPU

GPU Dedicated (Sumber: PC World)

4. Graphics processing unit (GPU) atau graphics/video card

GPU integrated (tersambung dengan prosesor) untuk laptop belakangan ini menurut saya sudah cukup baik. Jika Anda ingin bermain game, semestinya GPU integrated sudah cukup untuk menjalankannya selama Anda mengatur pengaturan grafis Anda menjadi rendah. GPU dedicated (atau, “ada graphics card-nya lho“) akan membantu memuluskan game Anda.

Namun tentu Anda tidak berkuliah untuk bermain game (setidaknya bukan tujuan utama, hehe). Diluar game, GPU dedicated akan sedikit membantu memuluskan proses video editing, Photoshop, pemodelan 3D, dan kegiatan grafis sejenisnya. Untuk mahasiswa yang banyak melakukan desain grafis tentunya graphics card merupakan suatu keharusan, namun saya masih kurang pengalaman untuk merekomendasikan jenis graphics card apa yang dibutuhkan.

Untuk saya pribadi, saya senang bermain game namun agak jarang memainkannya dan jarang pula mengedit video, sehingga saya tidak memakai laptop dengan GPU dedicated.

5 Battery

Baterai laptop (Sumber: wikiHow)

5. Baterai

Agak sulit untuk menguji baterai laptop pada saat membeli, karena pada umumnya baterai laptop akan sangat baik saat baru dipakai. Review-review yang beredar di internet mungkin dapat membantu Anda jika Anda sudah menetapkan beberapa calon pilihan Anda. Berdasarkan pengalaman saya, rata-rata laptop mainstream kini pada saat awal pembelian dapat bertahan lebih dari 5 jam, namun Jika Anda sangat peduli terhadap baterai dan berencana untuk menggunakan laptop tersebut dalam jangka panjang (lebih dari 2 tahun), carilah laptop dengan baterai yang dapat diganti.

4b Alienware

Alienware memiliki jajaran laptop yang besar dan powerful, namun umumnya cukup berat (Sumber: laptopmag.com)

6. Berat

Laptop berlayar besar dan performa tinggi nampaknya akan sangat nyaman untuk dipakai bekerja, namun kenyataannya untuk daily commute, laptop besar dan berat bisa melelahkan untuk dibawa. Untungnya, perkembangan prosesor belakangan ini fokus pada peningkatan efisiensi sehingga menurunkan suhu prosesor dan akhirnya laptop pun bisa didesain lebih tipis dan ringan. Saya sendiri lebih mengutamakan portabilitas dibandingkan power, sehingga saya paling nyaman membawa laptop di backpack dengan berat total (termasuk charger) tidak sampai 2 kilogram.

6 Lenovo Yoga

Lenovo Yoga (Sumber: Business News Daily)

7. Lain-lain

Untuk layar, saya kira ukuran tidak menjadi masalah, namun saya menyarankan untuk tidak memakai laptop dengan ukuran layar dibawah 11 inci. Walaupun terkesan praktis, saya rasa layar kecil tidak akan nyaman untuk dipakai dalam jangka waktu panjang. Resolusi layar pun tidak menjadi masalah, namun saya akan memilih minimal Full HD (1920 x 1080) jika memungkinkan karena gambar yang tajam akan lebih nyaman di mata.

Input laptop seperti keyboard dan trackpad cenderung subjektif dan terkait hal ini saya menyarankan Anda untuk mencoba di toko terlebih dahulu.  Untuk saya pribadi, saya tidak terlalu memperhatikan keyboard, namun trackpad yang responsif akan sangat saya sukai karena dalam beberapa kondisi saya akan menggunakan laptop tanpa mouse. Bagi penggemar trackpad, Anda mungkin akan sangat menyukai trackpad dengan tombol klik yang terpisah dari bagian tracking-nya. Standar ’emas’ pada laptop saat ini sayangnya masih dipegang oleh Macbook dan trackpad Windows terbaik pun sejauh ini hanya dapat mendekati saja.

Jangan lupa tentang port apa saja yang ada pada laptop Anda. Sebagian besar kampus dan tempat kerja masih menggunakan proyektor dengan output VGA, sehingga jika Anda tidak memiliki port VGA pada laptop Anda maka jangan lupa membeli dongle untuk konversi HDMI/Mini DisplayPort/output VGA lainnya ke VGA. Sekedar tips tambahan: jangan membeli dongle HDMI ke VGA yang tidak memiliki power sendiri, karena biasanya dongle tersebut akan gagal berfungsi.

Fitur-fitur tambahan seperti touchscreen, layar yang dapat diputar 360 derajat seperti pada Lenovo seri Yoga, dan layar yang dapat dilepas sehingga laptop dapat menjadi tablet seperti pada ASUS seri Transformer saya kira tidak dibutuhkan untuk mahasiswa secara umum. Tentu navigasi dengan menggunakan touchscreen akan sedikit lebih mudah, namun jika harus memilih, saya menyarankan untuk membeli laptop dengan trackpad yang baik ketimbang laptop dengan touchscreen namun performa trackpadnya buruk. Jika memungkinkan, hindari fitur-fitur ini untuk menghemat beberapa ratus ribu rupiah.

 

Memilih laptop untuk kuliah memang bukan perkara mudah, karena masih banyak hal lainnya yang subjektif seperti tampilan (kadang ada keinginan untuk terlihat keren dengan laptop Anda), merk, ketahanan, serta masih banyak lagi.  Kebutuhan software pun senantiasa berubah, seperti yang terjadi di jurusan saya yang dari tahun ke tahun. Mudah-mudahan yang saya bagikan ini dapat bermanfaat untuk teman-teman mahasiswa 🙂

Sebuah rekomendasi tentunya bisa sangat subjektif. Ada pengalaman atau saran lain tentang laptop mahasiswa? Yuk tuliskan di kolom komentar dibawah ini 😀

2 Comments on “Laptop “untuk Mahasiswa””

  1. Mantap jul insight nya :3

    Sebenernya buat generalized laptop for student, kemampuan prosessing,ram,ama hdd tergantung kebutuhan. Untuk mahasiswa teknik & design bisa jadi first priority karena menggunakan software rakus processing power. Sedangkan mahasiswa non teknik & design, lebih butuh portability dan weight yang gak berat.

    Battery capacity bisa jadi item irisan untuk semua mahasiswa, prosesor keluaran terbaru sekarang udh bisa bikin laptop running average 4 jam. Cukup buat 2 sesi kuliah sebelum break makan siang :3.

    Lalu port hdmi vs port rgb. Ini krusial kalau mau presentasi proyektor yang dipake belum support hdmi, sehingga converter hdmi to rgb layak diperhitungkan untuk segera dibeli. LAN connection juga penting bagi mahasiswa yang sering berhubungan dengan server.

    Nambahin juga, bagi pengguna laptop lebih dari 2 tahun, ada baik nya menservice laptop nya buat ganti thermal paste & bersih2 daleman. Problem overheating yang bikin performa laptop lag atau stuttering terjadi karena debu di heat spreadder dan lubang lubang pendingin. Mayan kok efek nya, walaupun gak serasa baru, tapi jadi ngerasain banget laptop lebih kencang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *