Apakah Anda butuh Kamera?

Kamera yang saya maksud, tentu saja, adalah kamera dedicated dengan fungsi untuk menangkap gambar dan merekam video tanpa fungsi lainnya seperti kamera pada smartphone.

Point and shoot, masihkah relevan?

Sekitar dua yang tahun lalu, untuk pertama kalinya saya memiliki kamera. Kamera tersebut adalah kamera jenis point and shoot atau pocket yaitu Panasonic DMC-TZ40 bekas yang dijual dengan sangat murah – seingat saya bahkan tidak sampai satu juta rupiah. Terlepas dari harga yang begitu murah, sejujurnya, saya kurang menyukai kamera tersebut. Kamera tersebut terlalu lambat dan seringkali saya mendapatkan hasil yang blur, bahkan pada mode otomatisMungkin perlu ada yang saya utak atik pada setting agar menghasilkan gambar yang tidak blur, namun dengan setting serba default menurut saya ini bukanlah indikasi yang baik.

Secara kualitas gambar, kamera tersebut pun bisa saya bilang masih kalah dengan smartphone saya waktu itu, Nokia Lumia 1020. Gambar yang dihasilkan oleh Nokia Lumia 1020 bebas dari blur (selama objek tidak terlalu cepat bergerak dan tangan cukup stabil), lebih tajam, serta dapat menghasilkan gambar format RAW (memotret untuk sekedar mengumpulkan informasi gambar tanpa proses lebih lanjut, selengkapnya di sini). Nokia Lumia 1020 yang diproduksi pada tahun 2013 hingga kini bagi saya masih merupakan smartphone dengan kamera berkualitas gambar terbaik. Sayangnya, keterbatasan hardware serta minimnya dukungan software membuat Lumia 1020 menjadi terasa lambat untuk standar smartphone sekarang dan serta Microsoft tidak meng-update firmware untuk Lumia 1020 lagi.

WP_20141213_12_18_50_Raw__highres

Nokia Lumia 1020 yang diproduksi pada tahun 2012 hingga kini bagi saya masih merupakan smartphone dengan kamera terbaik.

Sebagai tambahan informasi, kedua barang adalah produksi tahun 2013 dan saya tes pada tahun 2014. Jika dibandingkan secara harga, harga Lumia 1020 kurang lebih dua kali lipat dari DMC-TZ40.

Mirrorless vs. Smartphone

Fast forward ke satu tahun setelahnya, saya memutuskan untuk membeli sebuah kamera lagi – kali ini saya tidak mau jenis point and shoot lagi berdasarkan pengalaman kurang baik sebelumnya. Setelah riset selama kurang lebih satu bulan, akhirnya saya pun memutuskan untuk membeli jenis kamera yang paling hip saat itu (dan sampai kini pun masih): mirrorless. Kamera mirrorless bagi saya merupakan pertengahan antara point and shoot dengan DSLR (digital single-lens reflex, itu lho, kamera besar fotografer profesional yang biasanya bermerk Nikon atau Canon). Pada harga kamera + lensa yang sama, umumnya DSLR mempunyai kualitas gambar yang lebih baik, fitur yang lebih lengkap, serta autofocus yang sedikit lebih cepat, namun ukuran mirrorless yang relatif lebih kecil membuat mirrorless lebih fleksibel untuk dibawa kemana-mana tanpa banyak kompromi.

Saat itu, mirrorless termurah kondisi baru yang paling banyak beredar di pasaran hanya Sony a5000 dan Samsung NX3000. Saya memilih Sony a5000 yang saat itu sangat mainstream dengan alasan sekedar brand saja (Samsung tidak seterkenal itu untuk kamera dedicated, kan?) dan dari review-reviewnya pun tergolong baik. Sony a5000 pun menggantikan Lumia 1020 sebagai kamera utama saya.

Bagaimana kesan pertama saya dengan a5000? Secara kualitas gambar, a5000 memiliki kualitas yang bagus. Lensa zoom-nya memberi saya fleksibilitas dan bokeh (efek blur pada background yang muncul ketika kita memotret suatu objek yang dekat dengan kamera) yang ditampilkan lebih baik dari smartphone. Fiturnya cukup lengkap dari rekaman video full HD sampai layar yang dapat berputar untuk selfie merekam video ala vlog. Saya cukup senang dengan pembelian saya, namun tidak bisa dibilang benar-benar puas. Mengapa?

Karena a5000 kurang maksimal dalam memberikan fitur-fitur yang paling saya butuhkan. Sumber ketidakpuasan saya nampak hanya muncul dari satu hal yaitu lensa itu sendiri. Lensa kit (lensa bawaan saat membeli kamera) dari Sony untuk a5000 bisa dikatakan tidak terlalu baik: agak sulit mendapatkan bokeh ketika di zoom, muncul vignette (bayang hitam di sudut-sudut foto) saat saya memotret dalam mode RAW, dan yang paling penting adalah gambarnya tidak setajam yang saya inginkan.

Soal ekspektasi

Mungkin saya meminta terlalu banyak dari sebuah lensa kit, namun ekspektasi saya – sekali lagi – tidak dapat terpenuhi dengan kamera tersebut. Terlebih lagi, harga smartphone saya pada tahun itu sama dengan Sony a5000. Pada tahun ini pula transfer gambar dari kamera ke smartphone sudah cukup umum, sehingga kamera dedicated sudah menjadi ekstensi dari smartphone untuk menghasilkan gambar yang lebih bagus dan siap upload.

Di sisi lain, tahun 2015 merupakan tahun dimana smartphone Android memiliki peningkatan kualitas kamera yang cukup signifikan akibat terpancing dengan iPhone 6 dengan “punuk” kamera di bagian belakang agar dapat memuat sensor yang lebih besar.

20150817_171042_HDR2

20150816_131502_HDR22

20150817_160706_HDR2

20150902_125503_HDR-32

20150918_1635532

Pada tahun 2013, kualitas kamera smartphone high-end sudah dapat melampaui kamera dedicated jenis point and shoot. Pada tahun 2015, kamera smartphone sudah hampir menyamai kamera mirrorless entry level.

Caption alternatif: Gambar diambil dengan LG G4 dan pada tahun 2015 sudah sebagus ini apa betul kita masih perlu kamera dedicated? Hehe

Namun jangan salah, secara keseluruhan dari kualitas gambar, fitur, dan aspek lainnya, a5000 masih lebih baik dari kamera smartphone saya. Saya pun tetap menggunakan a5000 untuk seluruh kegiatan yang membutuhkan kamera ‘serius’ seperti acara nikahan atau survei.

DSC00601b2

DSC01565b2

DSC01567b2

DSC03227c2

DSC01720b2

DSC01678b2

Hasil jepretan dari Sony a5000. Apakah gambarnya lebih baik dari G4? Jelas iya, terutama pada dynamic range. Apakah jauh lebih baik dari G4 untuk harga yang sama? Hmm…

Jadi, apa yang dapat dipelajari dari kasus diatas?

Kesimpulannya, menurut saya, kamera sensor kecil seperti pada smartphone mengalami perkembangan yang jauh lebih cepat baik secara hardware maupun software dibandingkan kamera dedicated. Kualitas sensor dan lensa pada kamera smartphone semakin baik, begitu pula kualitas post-processing gambar oleh software. Hal ini, tentu saja, dipacu oleh penjualan smartphone yang jauh lebih tinggi dibandingkan kamera dedicated. Dengan demikian, apakah ini artinya kamera dedicated seharga smartphone akan terus tertinggal?

Bisa saja itu terjadi, dan hal tersebut ditunjukkan dari penjualan kamera dedicated yang sempat menurun curam Demand untuk kamera dedicated masih tetap ada, walaupun seharusnya dengan demand seperti ini orang-orang akan membeli kamera dengan lebih banyak pertimbangan.

Jadi, apakah kita butuh kamera? Kalau iya, apa yang Anda incar?

Kembali kepada topik utama, serta melihat kondisi kamera dedicated vs. smartphone terkini, jawaban saya adalah: pertimbangkanlah baik-baik fitur apa yang paling Anda butuhkan dari kamera dan hindari berekspektasi tinggi pada hal-hal yang bukan jadi prioritas Anda.

Tips dari saya, agar tidak kecewa saat membeli kamera dedicated dan membuat pembelian Anda worth it, carilah fitur-fitur yang tidak dimiliki oleh smartphone seperti berikut ini:

1. Optical zoom

Sony Alpha A5000 ILCE 5000L (4)

Sony a5000 (Sumber: www.ephotozine.com)

Hampir seluruh smartphone di dunia tidak memiliki lensa zoom dengan beberapa pengecualian seperti seri Samsung Galaxy Zoom atau Zenfone Zoom, sehingga jika yang Anda cari adalah optical zoom, maka argumen bahwa smartphone Anda kurang memadai dan Anda butuh kamera dedicated akan langsung kuat.

Sebagian besar kamera point and shoot memiliki fitur zoom, namun jika Anda menginginkan lebih banyak fitur maka Sony a5000 atau bahkan a6000 yang harganya terus menurun patut untuk dicoba. Alternatif lainnya adalah Fuji seri X-E2 dimana Fuji, secara sebagian besar opini publik – memiliki kualitas gambar format JPEG yang lebih baik dari Sony sehingga Anda tidak perlu sibuk mengutak-atik file RAW. Baik Sony maupun Fuji yang disebutkan merupakan kamera dengan interchangable lens, sehingga di masa mendatang, jika budget memadai, Anda bisa mengganti lensa yang ada dengan lensa zoom yang lebih besar lagi, atau mungkin berubah haluan menjadi lensa prime seperti pada poin berikutnya. Selain itu, jika Anda tidak terlalu mempedulikan soal handling pada kamera, Canon EOS M2 yang berbodi relatif lebih kecil dibanding kamera mirrorless sekelasnya mempunyai fitur yang sangat lengkap, kualitas gambar yang tajam, serta video yang secara umum sudah lebih baik dari Fuji.

2. Sensor besar (+lensa prime kualitas tinggi)

ricoh gr review pentax front left

Ricoh GR (Sumber: digitaltrends.com)

Seluruh, atau setidaknya hampir semua kamera dedicated memiliki sensor yang lebih besar dibanding smartphone. Sensor besar artinya Anda akan memiliki kualitas gambar yang lebih baik dengan lebih sedikit noise, lebih banyak dynamic range (warna dan kontras akan lebih kaya), kemampuan menghasilkan bokeh yang lebih baik, serta beberapa kelebihan lainnya. Jika yang Anda incar adalah kualitas gambar, carilah kamera dengan sensor yang baik – saya menyarankan tipe APS-C – dan jika memungkinkan dipadukan dengan lensa prime agar kualitas gambar semakin memukau.

Sayangnya, ‘kualitas gambar’ adalah sesuatu yang sangat subjektif. Sensor pada kamera smartphone yang begitu kecil kini tetap dapat menghasilkan gambar berkualitas tinggi dengan bantuan software untuk mengurangi segala kelemahan sensor kecil. Oleh karena itu, pelajari baik-baik calon kamera yang akan Anda beli jika alasan Anda adalah kualitas gambar.

Pengalaman saya relatif minim untuk kamera jenis ini, namun jika Anda ingin melihat kualitas kombinasi kamera sensor APS-C dengan lensa prime pada rentang harga smartphone, Anda dapat melihat gambar-gambar pada travelling blog kawan saya Ollie disini. Ollie menggunakan Ricoh GR dalam perjalanannya (kecuali untuk perjalanan Maroko dan Jerman, dimana saat itu – seingat saya – yang dipakai adalah DSLR).

3. Fitur khusus

yi_youtube.jpg

Xiaomi Yi (Sumber: idntimes)

Perlu diingat bahwa pada masa kini kamera bisa semakin mengecil, bahkan lebih kecil dari telapak tangan Anda. Action camera seperti GoPro sempat sangat hits pada tahun 2014-2015 dan menjadi pilihan para petualang, wisatawan, atau bahkan orang-orang yang sekedar hobi foto grup. GoPro menjadi pilihan karena ukurannya kecil, punya banyak aksesoris seperti perlengkapan anti air, selfie stick, dan mounting, serta lensanya sangat lebar sehingga dapat menangkap lebih banyak pemandangan walaupun terjadi distorsi pada lensa.

Tren kamera mendatang adalah kamera 360 yang dapat mengambil gambar maupun video ke segala arah. Adopsi video 360 nampaknya akan semakin tinggi mengingat YouTube sudah memberi dukungan untuk upload video tersebut ditambah dengan promosi VR (virtual reality) yang gencar dari berbagai produsen smartphone, dimana VR dapat digunakan untuk menonton video dengan format tersebut.

Pasar action camera saat ini sebenarnya cukup ramai dibanjiri oleh kamera-kamera dari perusahaan asal Tiongkok, namun dari segi kualitas dan dukungan aksesoris, GoPro masih memimpin. Posisi kedua nampaknya diambil oleh Xiaomi dengan kamera seri Yi, dimana kualitas gambar Yi cukup bersaing dengan GoPro dengan harga hingga hanya setengahnya.

Untuk kamera 360, saat ini belum banyak kamera yang beredar dan saya sendiri belum pernah mencobanya. Cukup banyak nama-nama yang muncul pada pasar ini, tetapi yang cukup terkenal belakangan ini karena harganya yang terjangkau mungkin adalah Ricoh seri Theta.

Tentu saja, Anda tidak dapat memiliki ketiga fitur utama diatas sekaligus, terlebih pada harga seperti smartphone. Anda mungkin bisa mendapatkan kamera dengan zoom yang besar, namun akan sulit mendapatkan bokeh dan kualitas gambar yang jauh lebih baik dari smartphone. Sebaliknya, pada kamera dengan lensa prime (tidak dapat zoom), kemungkinan besar Anda akan mendapat kualitas gambar yang lebih baik pada harga yang sama, namun Anda akan kesulitan pada lokasi-lokasi dimana Anda tidak bisa mendekati objek seperti di kebun binatang. GoPro mungkin sangat oke untuk Anda yang banyak melakukan aktivitas outdoor, namun jangan berharap banyak pada GoPro untuk bisa menangkap gambar still (bukan video) dengan kualitas prima.

Sebagai tambahan, selain perlu memperhatikan fitur-fitur utama diatas, Anda juga perlu memperhatikan jangan sampai ketiadaan suatu fitur ‘biasa’ menjadi dealbreaker untuk Anda. Berikut adalah beberapa hal yang bagi saya penting untuk diperhatikan.

1. Ukuran

DSLR mungkin memiliki price to performance ratio yang paling baik dari segi kualitas gambar, handling, dan hal-hal berorientasi hasil foto lainnya, namun ukurannya yang besar dan cenderung berat membuat DSLR tidat selalu dapat digunakan pada tiap kondisi seperti acara makan-makan formal dimana DSLR akan tampak mengintimidasi. Akibatnya, walaupun DSLR Anda dapat menghasilkan gambar dengan kualitas tinggi, Anda tidak dapat membawanya ke acara tersebut karena alasan diatas. Untuk acara seperti ini, kamera mirrorless atau point and shoot kualitas tinggi seperti Sony seri RX100 mungkin akan lebih cocok.

2. Konektivitas

Beberapa orang membutuhkan wi-fi dari kamera menuju smartphone agar dapat dengan segera upload foto-foto hasil jepretan. Tentu saja, Anda tidak mungkin dapat segera meng-upload jika harus mencabut memory card, memasukannya ke laptop, kemudian baru memindahkannya ke smartphone atau meng-upload langsung ke internet. Jika Anda termasuk ‘aktivis’ sosial media, pastikan ada wi-fi pada kamera Anda.

3. Performa ISO, rentang shutter speed, focal length dan lain-lain

Jika Anda suka bereksperimen atau ingin menangkap objek-objek yang sulit ditankap seperti jejak bintang dan pemandangan malam kota, pastikan Anda memilih kamera yang punya fitur yang cukup untuk mendapatkan gambar dari objek Anda. Anda akan sulit menghasilkan gambar yang bagus di kegelapan, misalnya, jika kamera Anda tidak memiliki performa ISO yang baik atau bahkan tidak punya pengaturan shutter speed yang cukup.

Saat ini masa kejayaan kamera dedicated di level mainstream mungkin sudah berlalu, namun bukan berarti kamera dedicated – terutama pada harga dibawah 8 juta-an – sudah tidak berguna lagi. Ketahuilah apa saja kebutuhan Anda, lalu dari daftar kebutuhan Anda yang mungkin pendek itu, cobalah pangkas lagi sambil mulai memperhatikan kompromi yang harus diambil pada beberapa aspek. Setelah Anda menemukan kamera yang cocok, aturlah ekspektasi Anda. Bukan menjadi rendah, namun menjadi tepat.

 

Update (8/8/2016): Fuji seri XA-2 diganti dengan seri XE-2, serta tambahan rekomendasi kamera yaitu seri Canon EOS M-2

 

4 Comments on “Apakah Anda butuh Kamera?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *