Desktop Pribadi di Era Smartphone, Masihkah Relevan?

Cajon.jpg

Pada zaman sekarang, seorang dalam kalangan menengah ke atas sudah memiliki personal computer atau PC, entah itu berbentuk laptop, tablet, ataupun smartphone (ya, berdasarkan definisi personal computer atau komputer pribadi, smartphone pun termasuk ke dalam PC). Saat ini, diperkirakan pengguna aktif smartphone di Indonesia sudah mencapai 50 juta, yang artinya hampir mencapai 1/5 jumlah penduduk Indonesia.

Dari segala jenis PC, ada satu jenis PC yang semakin ditinggalkan orang-orang yaitu sesuatu yang sebenarnya identik dengan nama”PC” itu sendiri pada zaman dahulu kala: desktop computer.

Desktop computer, atau lebih sering dikenal dengan desktop saja, merupakan PC yang bisa dibilang cukup lesu dalam penjualannya. Bagaimana tidak: desktop itu besar, tidak bisa dibawa kemana-mana dengan praktis, serta butuh banyak peripheral pendukung seperti keyboard, monitor, mouse, dan speaker agar dapat beroperasi dengan sempurna. Daya dari laptop pun kini sudah hampir menyaingi desktop. Pada sekitar tahun 2006, saya mendapatkan laptop pertama saya dan sejak saat itu saya sudah tidak menggunakan lagi desktop tua di rumah untuk mengerjakan segala pekerjaan saya karena saya rasa laptop saya sudah dapat diandalkan.

Fast forward ke 2016, saya merasa saya butuh komputer yang lebih kuat untuk bekerja. Pilihan saya saat itu ada dua: membeli desktop atau membeli laptop dengan spek tinggi (biasanya jatuh pada kategori laptop gaming), dan pada akhirnya saya memutuskan untuk membeli desktop dengan alasan sederhana: saya sudah punya laptop.

Sudah dua bulan berlalu semenjak saya kembali memiliki desktop dan, walaupun pada awalnya butuh penyesuaian kembali (mulai dari ‘duh, keyboardnya kok besar amat’ hingga ‘eh jangan kemana-mana, kerjaan belum selesai terus komputernya nggak bisa dipindah’), pada akhirnya saya kini cenderung menggunakan desktop saja untuk bekerja. Berdasarkan pengalaman saya yang cukup singkat ini, saya ingin memberikan pendapat saya berupa enam alasan mengapa desktop masih relevan hingga sekarang dan mudah-mudahan bermanfaat bagi Anda.

1. Spektrum penuntasan pekerjaan paling luas

Ya, betul, memang pada saat ini sudah banyak orang yang hanya butuh tablet atau bahkan smartphone mereka saja untuk dapat menyelesaikan segala urusan mereka alias get things done. Tablet seperti iPad pun belakangan ini mulai mengejar ketertinggalannya dalam soal aplikasi level profesional. Namun untuk pekerjaan pada umumnya seperti mengetik (dengan nyaman), membuat spreadsheet besar, mengedit film, dan sebagainya, Anda setidaknya membutuhkan desktop atau laptop untuk dapat menuntaskannya. Oleh karena itu, kelebihan-kelebihan berikutnya hanya dibandingkan dengan laptop.

2. Perbandingan harga terhadap performa

Salah satu alasan utama mengapa desktop masih relevan adalah karena perbandingan harga terhadap performa (price to performance) pada desktop secara umum lebih baik dibandingkan dengan laptop.

Mari kita lihat perbandingan komputer saya (saya tidak memberinya nama, tapi berhubung seorang kawan saya bilang kalau komputer saya mirip alat musik cajon [baca: kahon], maka saya tulis saja Cajon disana) dengan beberapa laptop pada rentang harga yang serupa. Saya mengambil harga ini dari Pemmz, salah satu reseller laptop untuk game yang cukup ternama di Indonesia. Harga total untuk merakit desktop saya sebenarnya adalah Rp14,225,000,00, namun itu karena saya sudah punya mouse, keyboard, monitor, speaker, dan Windows OS. Oleh karena itu, agar perbandingan lebih adil, saya set harga saya pada Rp17,000,000,00. Perbandingan harga tersebut dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Picture2

Tunggu, bukankah tadi saya bilang kalau secara priceto-performance desktop lebih baik dari laptop, lantas kenapa dari tabel tersebut terlihat kalau desktop malah tertinggal speknya?

Selintas memang demikian, namun mari kita lihat kenyataannya.

Untuk display, hal ini memang cukup subjektif, namun saya kira kualitas monitor Full HD dengan harga sekitar 1.3-1.5 juta tidak jauh berbeda dengan layar laptop gaming pada rentang harga tersebut, kecuali pada fitur anti-glare dimana bisa menjadi poin plus untuk para gamer. Dengan demikian, jika dihitung per fitur, saya kira layar laptop menyaingi desktop pada rentang harga ini, hanya saja ukurannya akan lebih kecil.

Untuk prosesor, sekilas pemenangnya adalah laptop, namun jangan lupa bahwa Core i5 pada Cajon adalah prosesor kelas desktop yang artinya secara umum akan lebih cepat dari prosesor kelas laptop. Perbandingan performa keduanya tidaklah terlalu jauh seperti yang dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Picture3.png

(Sumber: PassMark)

Dapat dilihat bahwa Core i7-4720HQ tidak jauh berbeda secara performa dengan Core i5-4690K. Kondisi yang tidak serupa dapat ditemui pada saat kita membandingkan graphics card, dimana GTX 950 jauh melampaui GTX 960M dan GTX 950M (‘M’ disini artinya adalah mobile).

Untitled-1.jpg

(Sumber: PassMark)

Mari beralih ke media penyimpanan atau storage. Memang betul bahwa laptop memiliki kapasitas yang lebih besar yaitu 1 TB, namun tipe penyimpanan pada desktop saya adalah SSD atau solid state drive, dimana secara umum SSD sekitar 4-5 kali lebih cepat dari HDD atau hard disk drive pada laptop.

Memori (RAM) pada desktop saya dua kali lipat dibandingkan laptop-laptop yang dibandingkan. Untuk dapat menyamai jumlah memori, setidaknya Anda perlu membeli memory stick 8GB yang harganya sekitar 1 juta rupiah. Saya memilih untuk memakai memori 16 GB karena secara umum pemakaian memori saya berada di kisaran 5 hingga 10 GB dimana saya dengan sangat lega dapat membuka Chrome dengan sekitar 10 tabs terbuka, Microsoft Office, Google Earth, dan bahkan Photoshop sambil menjalankan simulasi dengan pemakaian memori yang masih jauh dari mentok.

Ingin menyamakan spek laptop dengan spek desktop? Tentunya bisa: ganti SSD dengan HDD 1 TB 7200 RPM, maka harga akan berkurang 1,2 juta rupiah. Kurangi memori menjadi 8 GB, maka harga akan berkurang 800 ribu rupiah. Kurangi spek graphics card menjadi yang setara dengan GTX 950M (misalnya, GeForce GT 740), maka harga akan berkurang 1,5 juta rupiah. Dengan demikian, Anda akan mendapatkan dekstop yang sama kuatnya dengan laptop-laptop high end tersebut dengan harga 13,5 juta rupiah. Tentu Anda masih bisa berhemat banyak dari sini: Anda bisa memilih fan, power supply, dan case dengan kelas yang lebih rendah dan berhemat sekitar 1 juta rupiah lagi. Jika Anda sudah memiliki monitor, speaker, keyboard, dan mouse, anda bisa hemat 2,8 juta lagi sehingga total harga desktop tersebut ‘hanya’ 10,7 juta rupiah atau sekitar 2/3 dari laptop dengan performa yang setara. Dari sini juga dapat dilihat bahwa dalam jangka panjang, upgrade desktop akan jauh lebih murah dibandingkan dengan mengganti laptop setiap 4-5 tahun sekali.

Perlu diingat saya belum memasukkan UPS (Uninterruptable Power Supply) yang berfungsi untuk membuat desktop tetap menyala selama beberapa saat pada saat listrik mati dan mencegah kehilangan data secara mendadak. Hal ini tidak diperlukan pada laptop karena laptop memiliki baterai. Tentunya Anda tidak ingin tiba-tiba kehilangan hasil pekerjaan Anda yang sudah dikerjakan susah payah. Dengan demikian, jika kondisi pengaliran listrik di tempat Anda kurang baik, jangan lupa untuk membeli UPS.

3. Modular

Mod.jpg

Alasan ketiga adalah modularitas desktop, dimana kita bisa mengatur konfigurasi desktop sesuai kebutuhan sehingga pembelian desktop akan lebih efisien. Hal ini akan sangat terasa terutama saat Anda akan membeli desktop dalam jumlah banyak, misalnya untuk keperluan kantor. Ingin lebih bisa membuka belasan tab di Chrome sambil membuka Office dan mungkin juga menonton video? Tambahkan RAM hingga 8 atau bahkan 16 GB (saya memilih 16 GB karena mungkin akan memakai Virtual Desktop). Butuh komputer untuk main game, menggambar di Photoshop atau CAD, atau mengedit video di Premiere? Pasang graphics card yang sakti (saya tidak menyarankan untuk membeli graphics card yang low end karena secara price to performance kurang baik). Butuh akses data dan booting komputer lebih cepat? Ganti pilihan HDD dengan SSD. Beberapa produsen laptop kini juga menawarkan pilihan konfigurasi laptop per komponen (tidak hanya prosesor), namun hal ini masih cukup langka di Indonesia.

Modularitas ini juga akan sangat berguna dari segi perawatan atau maintenanceStorage, kipas, atau memori rusak? Cukup ganti yang rusak dengan komponen yang baru. Demikian pula pada peripheral seperti mousekeyboard, dan monitor. Sebenarnya, pada laptop pun hal ini dapat dilakukan, namun hal ini sangat tergantung pada laptop yang Anda gunakan (semakin umum laptop yang Anda gunakan, semakin banyak persediaan spare parts nya) dan beberapa komponen pada laptop cenderung terlalu mahal untuk diganti seperti kerusakan pada prosesor yang harga penggantiannya dapat mencapai setengah harga laptop tersebut.

4. Tidak mudah dibawa kemana-mana

Sekarang mari kita lihat kelebihan desktop dari perspektif penggunaan. Kelebihan terbesar laptop dibandingkan dengan desktop adalah laptop dapat dibawa kemanapun, sehingga kita dapat menuntaskan pekerjaan kita di perpustakaan, kafe, dan lainnya.

Namun pada kenyataannya, hal tersebut bisa menjadi kekurangan. Laptop memang bisa dibawa kemana-mana sehingga kalau kita bosan kita dapat berpindah tempat dan kembali bekerja, tetapi apakah hal itu termasuk efektif? Desktop akan ‘memaksa’ kita untuk mengerjakan sesuatu di satu tempat hingga tuntas. Berhubung desktop semestinya ditempatkan di ruangan yang paling kondusif untuk bekerja, keterbatasan itu bisa jadi sesuatu yang memacu produktivitas kita: jangan kemana-mana hingga pekerjaan selesai.

Ini merupakan salah satu alasan mengapa banyak orang berinvestasi pada desktop yang powerful dan laptop dengan performa biasa saja namun cukup ringan untuk dibawa-bawa, karena bagi mereka pekerjaan yang ‘serius’ dan butuh waktu lama untuk diselesaikan akan lebih baik diselesaikan di desktop, sedangkan laptop digunakan untuk pekerjaan ringan seperti mengetik, memperbaiki laporan, atau presentasi kepada klien.

Sebagai tambahan, layar laptop yang kecil untuk saya pribadi kurang cocok untuk dipakai kerja seharian, karena mata akan begitu dekat dengan layar dalam jangka waktu panjang dan dapat membuat lelah dengan cepat. Hal ini sebenarnya dapat diakali dengan layar eksternal, namun untuk kali ini saya tidak akan membahas hal tersebut.

5. Lebih awet

Hal yang satu ini masih diperdebatkan, namun saya percaya karena desktop memiliki ukuran yang lebih besar, aliran udara pada desktop akan lebih baik dibandingkan laptop pada kondisi high load, terutama jika dibandingkan dengan laptop-laptop middle class (5-8 juta an). Tentunya kualitas kipas dan konfigurasinya akan mempengaruhi hal ini.

Para pengguna laptop terkadang menempatkan laptopnya pada posisi dimana udara tidak dapat mengalir dengan baik seperti diatas kasur, sehingga membuat aliran udara terhambat dan laptop pun cepat panas. Temperatur adalah faktor yang sangat berpengaruh pada usia komputer, sehingga terlepas Anda pengguna desktop ataupun laptop, pastikan sistem pendinginan pada komputer Anda selalu baik.

6. Ports, ports, ports

Laptop middle class pada umumnya memiliki port USB sebanyak tiga buah, ethernet, HDMI dan/atau VGA, slot MicroSD card, serta microphone jack. Laptop-laptop high end yang tipis dan ringan umumnya memiliki port yang lebih sedikit, biasanya port USB yang berkurang. Artinya, terkadang Anda harus mencabut suatu peripheral untuk dapat memasang peripheral lainnya.

Dengan desktop, hal ini tidak menjadi masalah. Motherboard low end memiliki semua yang ada pada laptop (kecuali slot MicroSD) ditambah sebuah lagi port USB, port DVI dan motherboard high end bahkan memiliki lebih banyak lagi port USB serta fitur lainnya seperti Thunderbolt, Firewire dan sebagainya. Terkadang antena wifi pun terpasang pada motherboard.

Masihkah Relevan?

Jadi, apakah desktop masih relevan di era smartphone? Jawabannya tergantung kepada kebutuhan tiap orang. Jika Anda hanya memiliki dana terbatas sedangkan pekerjaan Anda menuntut spesifikasi komputer yang tinggi serta tidak butuh mobilitas tinggi, maka desktop bisa jadi pilihan Anda. Terlebih lagi, pada zaman sekarang pertemuan tatap muka sudah bisa digantikan dengan pertemuan lewat internet lewat Skype dan sejenisnya atau hasil pekerjaan Anda cukup dikirim lewat email.

Untuk saya pribadi, berhubung saat ini saya seringkali bekerja dari rumah, desktop memberikan kenyamanan yang luar biasa. Tidak ada lagi segala jenis kelambatan akibat terbatasnya RAM, saya bekerja lebih nyaman dengan keyboard yang lebih tactile dan layar yang besar, simulasi saya berjalan lebih cepat, dan (akhirnya) saya dapat mengedit video 1080p dengan sangat lancar, thanks to the graphics card. Saya masih memiliki laptop untuk keperluan pertemuan-pertemuan, namun sengaja saya pilih laptop yang seringan mungkin agar laptop tidak memberatkan selama perjalanan. Power dari laptop saya pun hanya secukupnya menghemat biaya dan penggunaan baterai.

Walaupun demikian, jika Anda misalnya seorang pelajar dan hanya dapat memiliki satu komputer, saya menyarankan Anda untuk membeli laptop ketimbang desktop, karena pasti akan ada banyak kondisi dimana Anda harus mengerjakan sesuatu bersama teman-teman Anda di kampus, presentasi, dan untuk hal-hal yang membutuhkan komputer yang powerful semestinya dapat dilakukan di komputer-komputer yang disediakan oleh kampus (semestinya, lho :p).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *